Setelah lebih dari satu dekade menjadi ikon kendaraan listrik premium, Tesla akhirnya menutup babak produksi Model S dan Model X dengan cara yang sangat eksklusif. Pada hari ini, Rabu, 21 Mei 2025, pabrik Tesla di Fremont, California, menjadi saksi acara penghantaran perdana sekaligus terakhir untuk edisi Signature khusus yang hanya diproduksi 350 unit di seluruh dunia. Langkah ini menandai akhir dari era dua model flagship yang telah mengubah persepsi global terhadap mobil listrik.
Dilansir dari ithome.com, acara penghantaran diadakan secara eksklusif untuk para pelanggan undangan, bukan untuk umum. Signature Edition ini terdiri dari 250 unit Model S Plaid dan 100 unit Model X Plaid, semuanya dalam konfigurasi performa tertinggi. Warna khas Garnet Red yang dipadukan dengan aksen emas pada logo Tesla dan emblem Plaid membuat setiap unitnya langsung dikenali sebagai versi paling langka dari setiap model.
Yang menarik, unit terakhir Model S Signature Plaid dengan nomor 250/250 diserahkan langsung kepada Steve Jurvetson, seorang investor awal Tesla. Ia juga merupakan penerima Model S pertama yang diluncurkan pada tahun 2012. Momen ini seakan menjadi lingkaran sempurna: dari mobil pertama hingga mobil terakhir, semuanya jatuh ke tangan orang yang sama. Ini bukan sekadar serah terima kendaraan, melainkan simbol perjalanan panjang Tesla dalam mengembangkan mobil listrik mewah.
Setiap unit Signature Edition menawarkan detail yang tidak akan ditemukan pada Model S atau Model X biasa. Pada Model S, terdapat sistem rem karbon-keramik dengan kaliper berlapis emas yang tidak hanya meningkatkan performa pengereman tetapi juga memberikan tampilan mewah. Model X versi Signature dilengkapi velg Machina 22 inci dengan konfigurasi enam kursi yang lega. Keduanya menggunakan jok Alcantara dua warna hitam-putih dengan jahitan emas, plakat khusus, pedal masuk bertuliskan Signature, key fob spesial, serta animasi lampu penyambutan yang unik.
Keputusan untuk mengakhiri produksi Model S dan Model X sebenarnya sudah diisyaratkan sejak tahun lalu. Tesla sebelumnya mengonfirmasi bahwa pada kuartal kedua tahun 2026, lini produksi untuk kedua model ini akan benar-benar dihentikan. Dengan demikian, setelah lebih dari 13 tahun hadir di pasar, Model S—yang pertama kali diperkenalkan pada 2012—dan Model X yang menyusul pada 2015, resmi menjadi bagian dari sejarah. Meski begitu, versi Plaid tetap menjadi salah satu mobil listrik tercepat di dunia dengan akselerasi 0–100 km/jam dalam waktu kurang dari 2,1 detik untuk Model S.
Bagi para kolektor dan penggemar setia Tesla, edisi Signature ini jelas menjadi barang incaran. Jumlahnya yang sangat terbatas dan statusnya sebagai produk akhir membuat nilai koleksinya berpotensi meningkat seiring waktu. Apalagi, Tesla tidak menjual model ini secara terbuka di situs resmi mereka. Pembeli merupakan undangan langsung dari perusahaan—sebuah strategi pemasaran yang memperkuat eksklusivitas.
Setelah tidak diproduksi lagi, kepemilikan Model S dan Model X di masa depan hanya akan bergantung pada pasar mobil bekas. Bagi yang sudah memiliki unit Signature Edition, mereka bisa dibilang memegang salah satu bagian paling langka dari warisan Tesla. Sementara itu, Tesla diprediksi akan fokus pada model-model yang lebih massal seperti Model 3, Model Y, Cybertruck, dan platform generasi berikutnya yang lebih terjangkau.
Namun, bukan berarti Tesla meninggalkan sektor kendaraan mewah. CEO Elon Musk sempat menyiratkan bahwa pengganti Model S dan Model X mungkin akan hadir dalam bentuk yang berbeda, mungkin dengan platform baru yang lebih efisien dan teknologi baterai terbaru. Sampai saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana tersebut. Yang jelas, para penggemar harus bersiap-siap untuk era baru Tesla yang mungkin tidak lagi menawarkan sedan besar atau SUV besar konvensional.
Acara penghantaran di Fremont juga menjadi ajang nostalgia bagi para insinyur dan karyawan Tesla yang telah terlibat dalam pengembangan Model S dan Model X selama bertahun-tahun. Banyak dari mereka yang hadir secara langsung untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Beberapa bahkan membawa mobil lama mereka untuk berfoto bersama dengan mobil Signature terbaru. Suasana haru dan bangga terasa jelas, mengingat betapa besar pengaruh kedua model ini terhadap industri otomotif global.
Jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, langkah Tesla ini mengingatkan kita bahwa inovasi di dunia otomotif tidak pernah berhenti. Model S dan Model X mungkin sudah tidak diproduksi lagi, tetapi warisan mereka—baik dari segi desain, performa, maupun teknologi—akan terus hidup. Fitur-fitur seperti layar sentuh raksasa, sistem penggerak semua roda listrik, mode Ludicrous, dan pintu Falcon Wing milik Model X telah menjadi standar yang ditiru oleh banyak produsen lain.
Bagi Anda yang penasaran dengan spesifikasi lebih detail, setiap unit Signature Edition dilengkapi dengan baterai 100 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 647 km (Model S) dan 578 km (Model X) menurut standar WLTP. Meski begitu, perlu diingat bahwa angka ini bisa berbeda tergantung gaya berkendara dan kondisi jalan. Harga resmi dalam dolar AS tidak disebutkan secara terbuka oleh Tesla, namun jika dikonversi ke rupiah, perkiraan harga untuk edisi biasa Model S Plaid adalah sekitar Rp2,5 miliar (Cek kurs rupiah saat ini untuk mengetahui harga dalam Rupiah). Edisi Signature tentu akan lebih mahal karena kelangkaannya.
Kesimpulannya, penghentian produksi Model S dan Model X merupakan langkah strategis Tesla untuk memfokuskan sumber daya pada produk yang lebih menjanjikan secara volume. Namun, bagi para kolektor dan pecinta otomotif, edisi Signature 350 unit ini akan selalu dikenang sebagai titik akhir dari sebuah era yang legendaris. Jangan heran jika di masa depan, mobil-mobil ini akan menjadi buruan utama di lelang mobil klasik dunia.