ICE Perluas Penggunaan Pemindai Biometrik, Termasuk Pemindaian Iris Mata Senilai $25 Juta

Ahmad

No comments
ICE Perluas Pemindai Biometrik Iris Mata dengan Kontrak $25 Juta
ICE Perluas Penggunaan Pemindai Biometrik, Termasuk Pemindaian Iris Mata Senilai $25 Juta. Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

US Immigration and Customs Enforcement (ICE) mengambil langkah signifikan dalam pengawasan biometrik dengan mengumumkan kontrak senilai $25,1 (kisaran Rp4 jutaan) juta. Kontrak ini ditujukan untuk pengadaan 1.570 perangkat pengenalan biometrik yang tidak hanya mampu mengidentifikasi individu melalui sidik jari dan pengenalan wajah, tetapi juga melalui pemindaian iris mata.

Baca Juga: Awas! Tautan ChatGPT Disalahgunakan untuk Sebar Malware Berkedok Aplikasi Desktop

Dilansir dari theregister.com, rincian kontrak yang diterbitkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), induk agensi ICE, menunjukkan bahwa dana tersebut diberikan kepada perusahaan Bi2 Technologies. Perangkat ini dirancang untuk digunakan di lapangan, baik dalam konfigurasi seluler maupun stasioner, memberikan fleksibilitas bagi agen ICE dalam operasi mereka.

Kemampuan perangkat ini melampaui identifikasi dasar. Agen ICE akan memiliki akses ke Inmate Recognition and Identification System (IRIS) milik Bi2, sebuah basis data ekstensif yang berisi lebih dari lima juta catatan penahanan, penangkapan, dan pemenjaraan dari 47 negara bagian AS.

Baca Juga: Xiaomi Mijia Air Conditioner 2026: Hemat Energi dengan Subsidi Pemerintah

Selain itu, sistem Bi2 juga dapat mengakses informasi SIM dan plat nomor kendaraan, memperluas jangkauan data yang dapat diakses oleh pihak berwenang.

Keputusan ICE untuk memberikan kontrak ini tanpa mencari penawaran kompetitif memicu pertanyaan. ICE membenarkan akuisisi tunggal ini dengan menyatakan bahwa kemampuan Bi2 “tidak tertandingi oleh pesaing mana pun.” Kontrak ini bukan yang pertama; tahun lalu, ICE juga membayar Bi2 Technologies sebesar $4,6 (kisaran Rp822 ribuan) juta untuk apa yang tampaknya merupakan uji coba satu tahun dari teknologi mereka dalam skala yang lebih kecil, melibatkan 200 perangkat.

Dengan penambahan kontrak terbaru ini, total 1.770 perangkat pemindai biometrik canggih ini berpotensi tersebar di seluruh Amerika Serikat pada akhir Mei 2027. Peningkatan jumlah perangkat dan kemampuan pemindaian iris mata yang lebih akurat ini menandai perluasan signifikan dalam strategi pengawasan biometrik ICE.

Penggunaan teknologi identifikasi biometrik oleh ICE telah menjadi subjek kontroversi sebelumnya. Aplikasi pengenalan wajah yang digunakan secara luas oleh ICE, misalnya, telah menimbulkan kekhawatiran privasi.

Senator dari Partai Demokrat secara konsisten menentang penggunaan teknologi identifikasi biometrik seperti Mobile Fortify, sebuah aplikasi yang dilaporkan digunakan oleh DHS di bawah pemerintahan sebelumnya untuk mengidentifikasi individu yang diduga melanggar imigrasi atau bahkan demonstran.

Baca Juga: Microsoft Ungkap 14 Paket npm Berbahaya Peniru OpenSearch dan Elasticsearch

Kekhawatiran utama yang diangkat oleh para senator adalah potensi ketidakakuratan, bias, dan efek menghambat pada ekspresi hukum hak-hak sipil yang dilindungi di AS. Peningkatan penggunaan pemindai iris mata yang terhubung ke basis data penegakan hukum dan dokumentasi pemerintah lainnya kemungkinan akan memicu perdebatan lebih lanjut mengenai privasi dan pengawasan di masa mendatang.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment