PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk kembali menegaskan peran strategisnya sebagai perusahaan teknologi nasional melalui pemanfaatan solusi digital untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat. Lewat inisiatif Stunting Action Hub, Telkom berhasil mengantarkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ke level yang lebih terukur dan berbasis data, sekaligus meraih dua penghargaan di ajang Indonesia Corporate Sustainability Championship (ICCS) 2025.
Penghargaan tersebut meliputi kategori Community Involvement Development bidang Kesehatan untuk program Stunting Action Hub, serta Agent TJSL of the Year yang diberikan kepada Senior General Manager Social Responsibility Telkom, Hery Susanto. Capaian ini mencerminkan bagaimana pendekatan teknologi dapat memperkuat efektivitas program sosial, khususnya dalam percepatan penanganan stunting di Indonesia.
Stunting masih menjadi tantangan kesehatan nasional yang memerlukan pendekatan lintas sektor. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 21,5 persen, meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam konteks ini, kehadiran solusi digital dinilai krusial untuk memastikan intervensi berjalan tepat sasaran dan berdampak nyata.
Melalui Stunting Action Hub, Telkom menghadirkan platform digital yang mendukung proses pengukuran, pencatatan, hingga pemantauan data antropometri anak secara terstruktur. Pemanfaatan sistem digital ini memungkinkan tenaga kesehatan dan posyandu melakukan pendataan secara lebih akurat, sekaligus mempermudah evaluasi program berbasis data lapangan.
Sepanjang tahun 2025, Stunting Action Hub mencatat peningkatan adopsi dengan melibatkan 53 tenaga kesehatan dan 42 posyandu. Secara keseluruhan, program ini telah memberikan manfaat langsung kepada 591 anak dan orang tua, mendukung 975 pengukuran antropometri, serta menyalurkan 7.586 paket makanan bergizi. Dari sisi dampak sosial, program ini mencatat nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 1:1,75, yang menunjukkan bahwa setiap investasi yang dikeluarkan menghasilkan manfaat sosial yang lebih besar.
Pendekatan berbasis teknologi ini menjadi pembeda utama dibandingkan program penanganan stunting konvensional. Digitalisasi memungkinkan pengelolaan data yang lebih transparan, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara perusahaan, tenaga kesehatan, dan komunitas lokal.
Ajang ICCS Summit sendiri merupakan forum strategis yang mempertemukan praktisi komunikasi dan TJSL BUMN dari seluruh Indonesia. Mengusung tema “Berdaulat Secara Ekonomi untuk Berdaya di Panggung Dunia”, forum ini menekankan pentingnya inovasi dan keberlanjutan dalam meningkatkan daya saing korporasi nasional di tingkat global.
Penghargaan Agent TJSL of the Year yang diraih Hery Susanto diberikan atas perannya dalam mentransformasi pengelolaan TJSL TelkomGroup agar lebih terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Transformasi tersebut mencakup penyelarasan program dengan Sustainable Development Goals (SDGs), penguatan kolaborasi multipihak, serta adopsi standar global seperti ISO 26000.
“Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Telkom dalam menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan. Melalui inovasi digital, kemitraan, dan penguatan ekosistem, kami berupaya memastikan setiap program TJSL memberikan manfaat yang terukur dan menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Hery Susanto.
Ke depan, Telkom menegaskan akan terus memperkuat peran teknologi sebagai enabler dalam berbagai inisiatif keberlanjutan. Dengan mengedepankan pendekatan berbasis data dan kolaborasi, Telkom menempatkan Stunting Action Hub sebagai contoh bagaimana solusi digital dapat berkontribusi langsung terhadap pembangunan kesehatan nasional dan penciptaan nilai jangka panjang bagi masyarakat.







Leave a Comment