Casio kembali menghadirkan kejutan bagi penggemar G-Shock dengan merilis dua model edisi khusus yang kental akan nuansa tradisional Jepang. Kali ini, seri Aka-Chochin hadir dengan desain yang terinspirasi dari lentera kertas merah, sebuah ikon budaya yang kerap dijumpai di depan kedai-kedai minuman di Jepang.
Baca Juga: Honor Watch 6 Resmi Debut Global dengan Layar AMOLED 3.000 nit
Kedua jam tangan ini resmi dipasarkan di Amerika Serikat, menawarkan perpaduan estetika klasik dan ketangguhan khas G-Shock.
Dilansir dari Gizmochina, model yang dimaksud adalah DW-6900AKA-4 dan DW-5600AKA-4. Sebelum meluncur di AS pada bulan ini, keduanya telah lebih dulu debut di Jepang pada April lalu. Kini, konsumen di Negeri Paman Sam bisa mendapatkannya dengan banderol $190 per unit, setara dengan harga yang berlaku di negara asalnya.
Baca Juga: Rumornya, Galaxy Watch Ultra 2 Bakal Bawa Baterai 35% Lebih Besar dan Chip Snapdragon Wear Elite
Desain Aka-Chochin yang Autentik
Sesuai namanya, seri Aka-Chochin dirancang untuk meniru tampilan lentera kertas merah tradisional. Dari sisi desain, perubahan yang dihadirkan lebih bersifat kosmetik, namun berhasil menangkap esensi budaya Jepang dengan apik.
Casing dan tali jam menggunakan material resin berbasis bio, sebuah langkah Casio yang semakin sering memakai alternatif ramah lingkungan ini sebagai pengganti plastik standar. Sebagai kontras yang menarik, tombol dan penahan tali dibuat dalam warna hitam—dimaksudkan untuk menyerupai gagang lentera khas yang dilapisi warna gelap.
Detail-detail kecil semakin memperkuat tema. Pada bagian dial, terpampang karakter kanji yang berarti ‘tahan goncangan’, mengingatkan pada filosofi G-Shock yang legendaris.
Lampu latar LED-nya memancarkan cahaya oranye hangat, menciptakan efek visual seolah lentera benar-benar menyala dalam kegelapan. Tidak hanya itu, bagian belakang casing dihiasi ukiran khusus, dan kemasannya pun hadir dengan desain bertema yang membuat pengalaman membuka kotak terasa istimewa.
Spesifikasi DW-5600AKA-4
Model pertama, DW-5600AKA-4, mengusung desain casing persegi yang sudah sangat ikonik di kalangan penggemar G-Shock. Dengan dimensi 48,9 x 42,8 x 13,4 mm dan bobot hanya 53 gram, jam ini sangat ringan dan nyaman dipakai sehari-hari.
Meski berpenampilan klasik, performanya tetap modern dan tangguh.
Spesifikasi DW-6900AKA-4
Sementara itu, DW-6900AKA-4 tampil dengan casing bulat yang lebih besar serta layar triple-graph yang khas. Dimensinya mencapai 53,2 x 50 x 18,7 mm dengan berat 67 gram.
Desain ini menawarkan tampilan yang lebih sporty dan mudah dibaca, cocok untuk mereka yang menyukai gaya lebih mencolok.
Fitur dan Ketahanan
Di balik balutan resin merah yang menawan, keduanya tetaplah G-Shock sejati. Ketahanan goncangan dasar dan ketahanan air hingga 200 meter menjadi standar.
Kaca mineral melindungi dial, sementara baterai CR2016 di dalamnya diklaim mampu bertahan selama kurang lebih 5 tahun—sebuah daya tahan yang mengesankan untuk jam tangan digital. Fitur yang disematkan pun identik: stopwatch 1/100 detik, timer hitung mundur 24 jam, alarm multi-fungsi, kalender otomatis penuh, serta flash alert yang menghubungkan lampu latar dengan buzzer alarm untuk notifikasi visual yang unik.
Ketersediaan di AS
Bagi yang berminat, DW-6900AKA-4 dan DW-5600AKA-4 sudah dapat dibeli melalui situs web resmi Casio dan berbagai saluran ritel standar di Amerika Serikat. Sayangnya, belum ada informasi apakah seri spesial ini akan mendarat di pasar global, termasuk Indonesia.
Namun, kehadirannya di AS tentu menjadi kabar baik bagi kolektor yang ingin menambah jam tangan edisi terbatas dengan sentuhan budaya Jepang.
Casio sendiri beberapa waktu terakhir cukup aktif meluncurkan varian G-Shock dengan tema unik. Sebelumnya, mereka memperkenalkan G-Shock tembus pandang yang terinspirasi estetika streetwear 1990-an, serta jam tangan AQ230A-7DMQY bergaya vintage dengan gelang baja tahan karat di pasar AS.
Baca Juga: Casio Rilis Jam Tangan G-Shock MTG-B4000B-1A di AS, Harga $1,500
Seri Aka-Chochin melengkapi portofolio tersebut dengan pendekatan yang lebih hangat dan tradisional.








Leave a Comment