Di tengah sorotan publik terhadap efektivitas transformasi BUMN, Telkomsel justru menunjukkan hasil yang solid. Operator seluler terbesar di Indonesia ini menutup Semester I 2026 dengan catatan keuangan yang mengesankan — pendapatan Rp55,6 triliun, naik 3,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ini bukan sekadar soal angka. Di balik capaian tersebut, ada cerita tentang bagaimana transformasi BUMN di bawah pengelolaan Danantara Indonesia mulai membuahkan hasil nyata. Bukan hanya di atas kertas, tapi langsung terasa oleh 153,5 juta pelanggan Telkomsel di seluruh Indonesia.
Pertumbuhan Bisnis Mobile yang Sehat dan Berkualitas
Yang menarik dari laporan kali ini adalah kualitas pertumbuhannya. Bukan sekadar tambah pelanggan, tapi pelanggan yang semakin produktif. Rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU) mobile Telkomsel naik 9% menjadi Rp45,6 ribu — sinyal kuat bahwa pelanggan Indonesia semakin banyak mengandalkan layanan digital.
Pendapatan bisnis mobile tercatat Rp42,8 triliun, tumbuh 5,6% YoY. Sementara bisnis digital melesat 11% menjadi Rp40,8 triliun. Kombinasi yang menunjukkan Telkomsel bukan lagi sekadar operator seluler — tapi sudah bertransformasi menjadi penyedia ekosistem digital.

Di sini menariknya, Telkomsel gak ngejar pertumbuhan pelanggan secara membabi buta. Mereka justru fokus pada penyederhanaan produk dan disiplin penawaran. Hasilnya? Pelanggan yang tersisa adalah yang benar-benar pakai layanan, bukan sekadar simpan kartu di laci.
Konsumsi data pun naik 0,8% menjadi 11,8 juta terabyte. Mungkin kelihatan kecil, tapi kalau dikalibrasi dengan kenaikan ARPU 9%, ini menunjukkan pelanggan makin banyak pakai layanan berbayar premium — bukan cuma kuota gratisan.
Infrastruktur Raksasa: 301 Ribu BTS, 6 Ribu BTS 5G
Untuk menjaga kualitas layanan, Telkomsel kini mengoperasikan sekitar 301 ribu BTS di seluruh Indonesia per Juni 2026. Rinciannya: 246 ribu BTS 4G, 6 ribu BTS 5G, dan 49 ribu BTS 2G. Ini infrastruktur telekomunikasi terbesar di Tanah Air.

Investasi jaringan ini dilakukan secara terarah — bukan sekadar pasang menara di mana-mana, tapi memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Ini perbedaan fundamental antara Telkomsel era lama dan Telkomsel di bawah transformasi Danantara: efisiensi dan akuntabilitas.
Sementara di segmen fixed broadband, Telkomsel melakukan kalibrasi strategis. Hasilnya: 9,5 juta pelanggan dengan pendapatan naik 0,6% kuartalan dan ARPU naik 3,4% menjadi Rp210,8 ribu. Penetrasi konvergensi mencapai sekitar 65% — pelanggan makin nyaman pakai bundle mobile + fixed.
EBITDA Rp26,1 Triliun, Bukti Efisiensi Operasional
EBITDA Telkomsel naik 8,6% YoY menjadi Rp26,1 triliun dengan margin menguat dari 44,6% ke 46,9%. Margin 46,9% ini luar biasa tinggi untuk industri telekomunikasi — membuktikan bahwa efisiensi operasional benar-benar terjadi, bukan cuma jargon presentasi.
Laba bersih pun ikut naik 8,3% menjadi Rp10,4 triliun. Ini penting buat Danantara sebagai pemegang saham, sekaligus jadi bukti bahwa BUMN telekomunikasi bisa tumbuh sehat tanpa mengorbankan layanan publik.
Nugroho, Direktur Utama Telkomsel, menyebut capaian ini sebagai hasil dari kepercayaan pelanggan serta semangat “Melayani Sepenuh Hati” dari seluruh insan Telkomsel. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Telkom Indonesia dan Danantara yang terus memperkuat arah transformasi perusahaan.
Dengan fundamental bisnis yang semakin kokoh, Telkomsel siap menghadapi paruh kedua 2026. Bukan cuma mengejar pendapatan, tapi memastikan setiap kemajuan teknologi — dari 4G ke 5G, dari mobile ke konvergensi — benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.
Baca Juga:









Leave a Comment