Serangan jamming atau pengacakan sinyal nirkabel semakin marak. Tim peneliti dari Rice University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pancaran radio yang bisa membelok sendiri (self-curving beams) dapat membuat sumber jamming terlihat berada di lokasi yang berbeda dari posisi aslinya.
Baca Juga: Token Kian Jadi Komoditas AI, China Gelar Workshop Tolok Ukur Kinerja Layanan Token
Temuan ini berpotensi melemahkan pertahanan anti-jamming yang ada saat ini.
Dilansir dari theregister, serangan jamming bekerja dengan membanjiri penerima nirkabel dengan sinyal bising sehingga layanan terganggu. Beberapa penerima modern menggunakan teknologi estimasi arah kedatangan sinyal (direction-of-arrival/DoA) untuk mengidentifikasi dan memblokir upaya jamming. Sistem DoA mampu menentukan dari mana arah sinyal jamming berasal, lalu mengarahkan null array untuk memblok sinyal dari arah tersebut. Namun, jika jammer memancarkan sinyal melengkung, sistem DoA bisa terkecoh karena sinyal tampak datang dari arah yang sama sekali berbeda.
Baca Juga: Apple Dilaporkan Hentikan Pengembangan Vision Pro, Fokus ke Smart Glasses
Professor Edward Knightly dari Departemen Teknik Elektro dan Komputer Rice University bersama mahasiswa doktoral Caroline Spindel mempresentasikan makalah penelitian yang mendemonstrasikan serangan jamming menggunakan pancaran melengkung. Hasilnya, serangan ini menyebabkan degradasi bit-error-rate yang parah sekaligus mengelabui estimator DoA, sehingga pertahanan konvensional gagal menghentikan interferensi.
Keduanya sebelumnya telah mengembangkan teknologi nirkabel yang membelokkan sinyal di sekitar objek untuk meningkatkan kekuatan sinyal—khususnya untuk sinyal milimeter wave jarak pendek. Teknologi yang sama ternyata bisa dimanfaatkan untuk membuat jammer yang jauh lebih sulit dilacak.
Spindel memberikan analogi yang mudah dipahami. “Bayangkan Anda dipukul bola sepak di sisi kanan kepala—secara alami Anda akan melihat ke kanan,” ujarnya. “Jika bola itu melengkung di udara, seperti tendangan bebas David Beckham, maka bola tersebut ditendang dari tempat yang sama sekali berbeda.” Jika Beckham terus bergerak dan menendang bola melengkung ke arah kepala Anda, Anda mungkin akan melihatnya pada akhirnya, tapi butuh waktu dan beberapa pukulan untuk menghentikannya. Jammer pada jarak gelombang radio kemungkinan jauh lebih sulit dideteksi, dan bahkan tidak perlu bergerak. Knightly dan Spindel mampu menciptakan ilusi bahwa jammer bergerak dengan memodulasi parameter pancaran dari posisi diam, sehingga semakin mempersulit pelacakan sumber jamming dan meniadakan upaya mencari posisi terbaik untuk mengarahkan null array.
Metode pemulihan konvensional yang digunakan untuk memblokir jamming gagal total dalam pengujian laboratorium. “Ini adalah demonstrasi pertama jammer yang tidak dapat dilokalisasi secara andal dan pertama kalinya pancaran nirkabel melengkung digunakan sebagai serangan,” kata Knightly. Penelitian ini tidak hanya menyoroti ancaman serius terhadap sinyal nirkabel—jamming GPS pada pesawat terbang misalnya semakin sering terjadi—tetapi juga dapat mengarahkan pengembangan teknologi nirkabel masa depan menjelang era 6G. Namun sebelum itu, potensi serangan jamming yang lebih dahsyat masih terbuka lebar.
Ancaman jamming sendiri bukanlah hal baru. Serangan semacam ini kerap digunakan untuk mengganggu komunikasi militer, jaringan seluler, maupun sistem navigasi.
Dengan teknik pancaran melengkung, pihak yang tidak bertanggung jawab bisa membuat serangan semakin sulit dideteksi dan diatasi. Hal ini menjadi perhatian serius bagi penyedia layanan telekomunikasi dan regulator.
Di sisi lain, penelitian ini juga membuka peluang bagi pengembangan sistem anti-jamming yang lebih cerdas di masa depan, misalnya dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola pancaran yang tidak wajar.
Ke depannya, teknologi pancaran melengkung bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini dapat meningkatkan kualitas koneksi nirkabel dengan membelokkan sinyal melewati hambatan.
Baca Juga: Nous Research Rilis Hermes Desktop, AI ‘Pemelihara Kuda’ Kini Bisa Diakses dari PC
Di sisi lain, teknologi yang sama bisa dieksploitasi untuk tujuan jahat. Para peneliti berharap temuan ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi industri telekomunikasi untuk merancang protokol keamanan yang lebih tangguh di era 6G, di mana penggunaan pita frekuensi tinggi dan beamforming akan semakin masif.








Leave a Comment