Samudra Pasifik kembali memanas. Kali ini, para ilmuwan memperkirakan El Niño yang baru terbentuk bisa melampaui segala rekor sebelumnya.
Baca Juga: Meta Luncurkan Kacamata Pintar Meta Glasses, Harga Mulai $299
Dengan potensi kekuatan luar biasa, dunia bersiap menghadapi perubahan pola cuaca yang signifikan.
Dilansir dari IT之家, fenomena El Niño telah resmi terdeteksi di Pasifik sejak 24 Juni. NOAA sendiri lebih dulu mengumumkan pada 10 Juni bahwa Samudra Pasifik tropis telah memasuki kondisi El Niño, menandai dimulainya episode yang bisa sangat bersejarah.
Baca Juga: Samsung Luncurkan UFS 5.0: Kecepatan 10,8 GB/dtk, Hemat Daya 40%
El Niño merupakan siklus alami yang terjadi setiap 2 hingga 7 tahun, dengan durasi rata-rata 9 sampai 12 bulan. Ciri utamanya adalah pemanasan anomali suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur.
Namun, yang membuat edisi kali ini spesial adalah seberapa cepat dan kuat pemanasan itu terjadi.
Satelit Sentinel-6 yang mengawasi lautan mendeteksi penyimpangan tinggi permukaan laut pada 8 Juni. Temuan ini mengindikasikan adanya gelombang air hangat sepanjang ratusan mil di sepanjang khatulistiwa, yang dikenal sebagai gelombang Kelvin.
Gelombang ini membawa energi panas dalam jumlah besar dan menjadi salah satu penanda awal kekuatan El Niño.
Yang lebih mengejutkan, nilai indeks Niño 3.4—yaitu suhu permukaan laut di wilayah pemantauan utama—sudah mencapai +1,7°C pada pertengahan Juni. Angka ini sangat dekat dengan ambang batas “sangat kuat” yang ditetapkan NOAA, yaitu kenaikan lebih dari 2°C di atas normal. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin rekor tahun 1950 akan terlewati.
NOAA memberikan probabilitas 63% bahwa El Niño kali ini akan mencapai kategori “sangat kuat” pada puncaknya, yang diperkirakan terjadi antara November hingga Januari. Dari total 24 model prediksi iklim yang dikaji oleh Columbia University, sebanyak 13 model—lebih dari setengahnya—memproyeksikan kejadian ekstrem pada musim gugur nanti. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kita mungkin sedang menuju El Niño terkuat dalam lebih dari tujuh dekade.
Lantas, apa dampaknya? Meskipun fenomena ini bersifat global, Tiongkok menjadi salah satu wilayah yang paling terpengaruh.
Pola dampak yang biasa terjadi meliputi musim panas dengan banjir di selatan dan kekeringan di utara, lonjakan suhu tinggi, serta musim dingin yang lebih hangat dari biasanya. Jumlah badai tropis bisa berkurang, tetapi tekanan terhadap pertanian dan sumber daya air justru meningkat drastis.
Hal ini tentu bisa memicu krisis pangan dan energi jika tidak diantisipasi.
Baca Juga: Tiongkok Luncurkan Array Teleskop Komersial Pertama, Tangkap 4.000 Target
Meski prediksi masih mengandung ketidakpastian, data dan model yang ada saat ini menunjukkan urgensi untuk bersiap. Dari pengamatan satelit hingga analisis probabilitas, semua mengarah pada satu kesimpulan: El Niño 2023 bisa menjadi fenomena yang akan dikenang sebagai salah satu yang paling dahsyat.








Leave a Comment