Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir Agustus 2026 bukan hanya merusak bangunan dan infrastruktur fisik, tetapi juga memutus jalur komunikasi vital bagi ribuan warga. Di tengah situasi darurat tersebut, PT Telkom Akses langsung merespons dengan mengerahkan lebih dari 150 teknisi ke lapangan untuk memulihkan infrastruktur jaringan telekomunikasi di seluruh wilayah terdampak.
Respons cepat ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup untuk memastikan konektivitas masyarakat NTT tetap terjaga, mengingat komunikasi adalah kebutuhan paling krusial saat bencana.
Baca Juga:
- TelkomGroup Optimalkan Konektivitas Satelit Telkomsat di 17 Titik Terdampak Gempa NTT
- TelkomGroup Sediakan Akses Internet Gratis di Posko Pengungsian NTT
Pemulihan Penuh Hanya dalam Tiga Hari
Berbeda dengan kejadian serupa yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, TelkomGroup berhasil mengembalikan konektivitas dan layanan digital di wilayah NTT secara penuh hanya dalam waktu tiga hari. Pencapaian ini tidak lepas dari kesiapan personel dan koordinasi operasional yang solid antar seluruh unit di lapangan.

Teknisi Telkom Akses memperbaiki kabel jaringan di kawasan rawan longsor Ende, NTT. Sumber: Telkom.
Para teknisi harus menelusuri sumber gangguan, memeriksa kondisi jaringan, dan melakukan perbaikan di sejumlah titik — semuanya dilakukan di tengah medan yang berubah drastis akibat gempa, akses lokasi yang terbatas, hingga potensi bahaya di sekitar area kerja.
Tantangan Berat di Lapangan
Tidak semua lokasi perbaikan bisa dijangkau dengan mudah. Di Ende, misalnya, pekerjaan berada di kawasan rawan longsor dan berdekatan dengan jurang. Kondisi tersebut membuat proses penarikan maupun penyambungan kabel membutuhkan kewaspadaan ekstra dari seluruh anggota tim.
Sebelum pekerjaan dimulai, tim terlebih dahulu memastikan kondisi lingkungan, mengidentifikasi potensi bahaya, dan menentukan langkah penanganan yang paling aman. Pendekatan bertahap dengan prinsip Health, Safety, and Environment (HSE) menjadi standar kerja yang tidak bisa ditawar.
Penggunaan alat pelindung diri, komunikasi antarpersonel, pemeriksaan kondisi lingkungan, hingga penerapan prosedur kerja ketat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap penanganan gangguan. Di tengah tuntutan untuk memulihkan jaringan dengan cepat, keselamatan teknisi tetap menjadi prioritas utama.

Teknisi Telkom Akses memberikan penjelasan kepada warga terdampak gempa di pos pengungsian di NTT. Sumber: Telkom.
Direktur Utama Telkom Akses Irphan Wijaya menegaskan bahwa dalam kondisi bencana, konektivitas bukan lagi sekadar layanan, melainkan kebutuhan penting bagi masyarakat. Kehadiran teknisi di lapangan membantu warga yang sedang melalui masa pemulihan untuk menghubungi keluarga, memperoleh informasi, berkoordinasi, hingga kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sementara bagi berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana — mulai dari BPBD, TNI/Polri, hingga relawan — konektivitas turut mendukung kelancaran koordinasi di lapangan yang sangat krusial di hari-hari pertama pascabencana.
Pemantauan Berkelanjutan di Fase Normalisasi
Setelah seluruh proses pemulihan site di NTT rampung, tim teknisi Telkom Akses tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka terus melakukan pemantauan terhadap kondisi infrastruktur di wilayah operasional Flores untuk memastikan jaringan tetap andal selama fase normalisasi.
Kesiapan personel dan dukungan operasional di lapangan juga terus diperkuat guna mengantisipasi potensi gangguan lanjutan — terutama mengingat wilayah NTT yang masih memiliki potensi gempa susulan. Pemulihan jaringan bukan hanya tentang mengembalikan infrastruktur yang sempat terganggu, tetapi juga membuka kembali akses masyarakat untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Melalui Telkom Akses, TelkomGroup terus hadir di lapangan untuk memastikan masyarakat NTT dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan konektivitas yang stabil dan andal.
Baca Juga:









Leave a Comment