Inggris Berencana Larang Interaksi dengan Orang Asing di Game Online

Ahmad

No comments
Inggris Berencana Larang Interaksi di Game untuk Remaja
Inggris Berencana Larang Interaksi dengan Orang Asing di Game Online. Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Pemerintah Inggris tengah mempertimbangkan aturan ketat baru yang dapat mengubah cara remaja bermain game online. Wacana yang mencuat kali ini adalah melarang interaksi dengan orang asing di dalam game bagi pengguna yang berusia di bawah 16 tahun.

Baca Juga: Ratusan Ribu Sistem Minecraft Terinfeksi Kampanye Malware WeedHack

Jika benar diterapkan, sejumlah game sosial populer seperti Roblox, Fortnite, dan Minecraft bisa terkena dampak signifikan.

Dilansir dari ithome, Menteri Keamanan Siber Inggris Kanishka Narayan menyatakan bahwa pihaknya sedang mengkaji perluasan larangan media sosial bagi remaja ke ranah gim video. “Kami sedang mempelajari bagaimana menyempurnakan larangan media sosial untuk remaja dan mempertimbangkan untuk melarang sepenuhnya interaksi anak di bawah umur dengan orang asing dalam game online,” ujar Narayan.

Baca Juga: Kernel Linux 7.1-rc6 Hadirkan Dukungan untuk Kontroler ASUS ROG Raikiri II dan GameSir Nova 2 Lite

Inggris sebenarnya telah memiliki regulasi ketat lewat Online Safety Act, yang mewajibkan platform digital menjaga keamanan pengguna mudanya. Larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun pun menjadi salah satu pilar kebijakan tersebut.

Namun, seiring makin maraknya game-game yang dilengkapi fitur obrolan, panggilan suara, dan interaksi real-time, pemerintah melihat perlunya aturan serupa diterapkan di industri gim.

Secara global, kekhawatiran terhadap keamanan anak di dunia maya memang meningkat. Banyak negara mulai memperketat aturan.

Australia, misalnya, telah lebih dulu melarang pengguna di bawah 16 tahun mengakses platform live streaming Twitch. Amerika Serikat dengan Kids Online Safety Act (KOSA) dan Uni Eropa lewat Digital Services Act juga mendorong perlindungan lebih kuat bagi pengguna muda.

Game online dianggap sebagai celah baru yang perlu diatur.

Game online saat ini sudah lebih dari sekadar hiburan. Platform seperti Roblox dan Fortnite telah bertransformasi menjadi ruang sosial virtual, tempat anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam.

Mereka membuat avatar, menghadiri konser virtual, dan mengobrol dengan pemain lain. Celah inilah yang memicu kekhawatiran: predator dewasa dapat dengan mudah menyamar dan mendekati target di lingkungan yang seharusnya aman.

Australia memang tidak secara langsung melarang anak bermain game, namun langkah melarang Twitch menunjukkan keseriusan mereka membatasi interaksi anak dengan orang tak dikenal. Model inilah yang kabarnya dijadikan acuan oleh Inggris, seperti dilaporkan The Times.

Salah satu platform yang paling disorot adalah Roblox. Game yang populer di kalangan anak-anak ini dituding menjadi sarang kejahatan seksual daring oleh pemerintah Australia.

Tindakan predator yang menyamar sebagai pemain muda untuk mendekati korban menjadi ancaman serius. Tak hanya Australia, otoritas di berbagai negara juga melontarkan kritik pedas terhadap minimnya pengamanan di Roblox.

Di bawah tekanan, Roblox akhirnya mengambil langkah signifikan. Mereka memperkuat sistem moderasi konten, membatasi kemampuan anak-anak berinteraksi dengan orang yang bukan teman, serta memperkenalkan kontrol orang tua yang lebih ketat.

Langkah ini diambil demi meredam kritik dan menghindari regulasi yang lebih keras dari pemerintah.

Jika larangan total interaksi dengan orang asing untuk anak di bawah 16 tahun benar-benar diberlakukan di Inggris, dampaknya tidak akan berhenti pada Roblox saja. Fortnite, misalnya, mengandalkan komunikasi tim dalam mode battle royale.

Pemain biasa mengobrol dengan rekan satu skuad yang bisa jadi adalah orang tak dikenal dari seluruh dunia. Minecraft juga memiliki server-server komunitas tempat anak-anak berinteraksi dan berkolaborasi.

Game-game seperti Among Us, Call of Duty Warzone, bahkan game mobile populer semacam Free Fire dan PUBG Mobile juga menyediakan fitur chat dan voice chat. Regulasi ini berpotensi memaksa pengembang untuk merombak desain fitur sosial mereka, setidaknya untuk pasar Inggris.

Mereka mungkin harus menerapkan sistem verifikasi usia yang lebih ketat atau bahkan menonaktifkan fungsi komunikasi bagi pengguna muda.

Hingga berita ini ditulis, pemerintah Inggris belum mengambil keputusan final. Usulan ini masih dalam tahap diskusi dan kajian lebih lanjut.

Baca Juga: Steam Controller Kini Bisa ‘Bernyanyi’ Lagu Penuh Hanya dengan Getaran Haptik

Namun, pernyataan tegas dari Menteri Narayan menunjukkan bahwa percakapan menuju aturan yang lebih protektif terhadap anak di ranah digital sedang berlangsung serius. Para pengembang game besar pun patut mencermati perkembangan ini, karena bisa menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk mengikuti langkah serupa.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment