Pendaftaran Samsung Solve for Tomorrow 2026 Segera Tutup, Alumni Bagikan Kisah Inovasi AI Inklusif

Ahmad

No comments
Pendaftaran Samsung Solve for Tomorrow 2026 Segera Ditutup
Foto: Samsung via news.samsung.com

Di tengah akselerasi adopsi teknologi digital yang melaju sangat cepat, kesenjangan aksesibilitas komunikasi masih menjadi tantangan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan. Banyak individu dengan disabilitas pendengaran atau teman tuli menghadapi hambatan signifikan dalam interaksi sehari-hari akibat terbatasnya ketersediaan interpreter bahasa isyarat yang mudah diakses.

Baca Juga: Kompetisi Robot Humanoid Sepak Bola Tingkat SMP/SMA: Era Baru AI dan Talenta Muda

Kondisi ini memicu dorongan kuat bagi kalangan akademisi dan pengembang teknologi untuk merancang solusi yang lebih adaptif, terjangkau, dan berkelanjutan. Salah satu ekosistem yang secara konsisten mendukung upaya tersebut adalah Samsung Solve for Tomorrow, sebuah program kompetisi berbasis STEM yang kini memasuki fase penutupan pendaftaran untuk edisi 2026.

Dilansir dari news.samsung.com, melalui inovasi Gesti Talk, alumni Samsung Solve for Tomorrow membagikan pengalaman dan pembelajaran mereka di SFT 2025 dalam menciptakan solusi teknologi yang inklusif.

Baca Juga: RayNeo GT Series AR Glasses Resmi Hadir dengan Dolby Vision dan Audio Spasial

Program tersebut tidak hanya berfungsi sebagai arena uji konsep, tetapi juga menjadi katalisator strategis bagi generasi muda untuk mengubah kepedulian sosial menjadi produk teknologi yang terukur dan siap diterapkan di masyarakat.

Tim KYGB dari Universitas Bina Nusantara Alam Sutera berhasil membuktikan efektivitas pendekatan tersebut melalui karya mereka. Komposisi tim yang terdiri dari Nathanael Setiorahardjo, Bonaventura Jonathan Tanujaya, Kelvin Leandi, dan Gavinn Aloys lahir dari kesadaran mendalam terhadap isu inklusi sosial.

Mereka merancang Gesti Talk, sebuah aplikasi cerdas yang mengintegrasikan kecerdasan buatan dan computer vision untuk menjembatani kesenjangan komunikasi. Aplikasi ini mampu mendeteksi gerakan tangan pengguna yang melakukan Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO, lalu menerjemahkannya secara langsung menjadi teks maupun suara melalui kamera smartphone, memungkinkan interaksi dua arah yang lebih lancar tanpa bergantung sepenuhnya pada kehadiran manusia sebagai penerjemah.

Pengembangan Gesti Talk melibatkan integrasi beberapa komponen teknologi mutakhir yang bekerja secara sinergis. Pada tahap akuisisi data, sistem computer vision digunakan untuk memetakan titik koordinat jari dan gerakan pergelangan tangan secara presisi.

Algoritma ini bertugas menangkap pola gerakan statis maupun dinamis yang membentuk kosakata dalam bahasa isyarat. Data visual tersebut kemudian diteruskan ke model kecerdasan buatan yang dibangun menggunakan arsitektur Long Short-Term Memory atau LSTM.

Pemilihan arsitektur ini didasarkan pada kemampuan model dalam memahami urutan temporal, sehingga konteks dan alur bahasa isyarat dapat dibaca dengan lebih akurat dibandingkan metode klasifikasi frame-by-frame yang sering kehilangan nuansa makna. Hasil akhirnya adalah terjemahan kalimat Bahasa Indonesia yang muncul secara real-time, memberikan kemudahan signifikan bagi pengguna difabel pendengaran dalam mengakses informasi publik maupun berinteraksi dalam lingkungan profesional.

Kesuksesan prototype ini mengantarkan tim KYGB meraih posisi Juara 3 kategori Universitas dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow 2025. Program yang diselenggarakan oleh Samsung Electronics ini dirancang khusus untuk mendorong siswa dan mahasiswa menghasilkan inovasi berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika guna menjawab masalah nyata di lingkungan sekitar.

Selama mengikuti kompetisi, para peserta tidak hanya fokus pada aspek pemrograman, tetapi juga diajak memahami siklus lengkap pengembangan perangkat lunak, mulai dari proses ideasi, pengumpulan dataset, preprocessing data, hingga pelatihan model AI. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa setiap ide tidak hanya bersifat teoritis, tetapi memiliki fondasi teknis yang kokoh.

Nathanael Setiorahardjo, selaku ketua tim, menyoroti pentingnya sesi mentoring yang diberikan selama berlangsungnya program. “Dari seminar tentang inklusivitas itu kami mulai berpikir, bagaimana kalau teman-teman tuli bisa punya akses terhadap interpreter yang lebih mudah dijangkau melalui teknologi? Kami ingin menciptakan solusi yang dapat membantu mereka berkomunikasi secara lebih mandiri dan inklusif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bimbingan teknis dari mentor menjadi faktor krusial dalam penyempurnaan algoritma.

“Sesi mentoring jadi salah satu bagian paling penting buat kami. Project kami benar-benar dicek dan diberikan banyak masukan yang membantu. Selain itu, adanya timeline dan deadline juga membuat pengembangan project berjalan lebih terarah,” tambahnya. Struktur manajemen proyek yang ketat ini melatih peserta untuk bekerja efisien, mengelola risiko teknis, dan menyesuaikan roadmap pengembangan sesuai batasan waktu yang ditetapkan.

Di luar kemampuan teknis, partisipasi dalam kompetisi ini juga mengasah keterampilan lunak yang vital bagi seorang pengembang masa depan. Tim KYGB melaporkan peningkatan signifikan dalam hal kerja sama tim, kepemimpinan, berpikir kritis, strategi presentasi, serta kemampuan memecahkan masalah kompleks.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kompetisi teknologi tidak lagi sekadar soal siapa yang bisa menulis kode tercepat, melainkan bagaimana mengintegrasikan kreativitas, empati, dan disiplin manajemen proyek untuk menghasilkan dampak sosial yang nyata. Keterampilan pitching dan problem solving yang diasah selama program berlangsung juga mempersiapkan peserta untuk menghadapi tantangan industri nyata, di mana komunikasi efektif dan adaptabilitas menjadi kunci keberhasilan.

Mengingat keberhasilan yang telah diraih, tim KYGB secara terbuka mengajak lebih banyak pelajar dan mahasiswa di Indonesia untuk berani mencoba program serupa. Mereka menekankan bahwa langkah pertama seringkali terasa menakutkan, namun justru berasal dari masalah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Saat pertama kali mengikuti SFT, kami hanya memahami dasar-dasar AI dari materi kuliah. Namun selama program berlangsung, kami mendapatkan banyak pembelajaran dan pendampingan yang membantu kami memahami proses pengembangan AI secara lebih menyeluruh hingga akhirnya bisa mengembangkan model sendiri. Buat teman-teman yang ingin ikut SFT 2026, menurut kami yang paling penting adalah berani memulai dari masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terbuka untuk belajar hal baru, dan jangan takut mengembangkan ide sederhana menjadi solusi yang berdampak,” ungkap perwakilan tim KYGB. Pesan ini selaras dengan filosofi pendidikan vokasi dan akademik modern yang mendorong pembelajaran berbasis proyek dan penyelesaian masalah kontekstual.

Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia, menegaskan kembali visi program ini sebagai ekosistem pembelajaran jangka panjang.

“Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami ingin mengajak lebih banyak generasi muda untuk berani memulai dari kepedulian terhadap masalah di sekitar mereka. Kami percaya setiap ide memiliki potensi untuk membawa dampak positif bagi masyarakat ketika dikembangkan dengan kreativitas dan teknologi. Karena itu, Samsung Solve for Tomorrow hadir sebagai ruang belajar dan kolaborasi bagi anak muda Indonesia untuk mengembangkan potensi, mengasah keterampilan masa depan, dan menciptakan inovasi yang lebih inklusif serta relevan bagi kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi peran sektor swasta dalam memperkuat infrastruktur talenta digital nasional melalui program yang terstruktur dan berorientasi pada hasil.

Saat ini, pendaftaran untuk Samsung Solve for Tomorrow 2026 masih dibuka dan akan resmi ditutup pada 29 Mei 2026. Program ini terbuka luas bagi seluruh pelajar tingkat SMA, SMK, dan MA sederajat, serta mahasiswa aktif jenjang D3, D4, hingga S1 di seluruh wilayah Indonesia.

Peserta diundang untuk merancang solusi inovatif yang mengintegrasikan prinsip STEM dan kecerdasan buatan. Tahun ini, panitia menetapkan tiga tema utama yang menjadi fokus pengembangan, yakni Sustainability & Environment yang berfokus pada keberlanjutan ekologis dan efisiensi sumber daya, Sport & Technology yang mengeksplorasi pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan performa atletik serta kesehatan fisik, serta Education yang menitikberatkan pada transformasi metode pembelajaran melalui alat bantu digital.

Ketiga tema ini dipilih berdasarkan urgensi permasalahan nasional dan peluang integrasi teknologi yang sedang berkembang pesat.

Seluruh informasi mengenai mekanisme pendaftaran, panduan teknis, dan jadwal kegiatan dapat diakses melalui situs resmi program. Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai rangkaian kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan, portal resmi korporasi menyediakan dokumentasi lengkap beserta update terbaru mengenai perkembangan program.

Baca Juga: eufy C15 Resmi: Robot Pemotong Rumput Murah dengan Kamera TrueVision

Kehadiran platform seperti ini terus membuktikan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan, industri teknologi, dan komunitas dapat melahirkan terobosan yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga manusiawi dan berkelanjutan. Dengan menutup pintu pendaftaran pada akhir Mei, program ini berharap dapat mengumpulkan proposal-proposal berkualitas yang siap diuji, dibimbing, dan dikembangkan menjadi solusi nyata bagi tantangan sosial Indonesia di masa depan.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment