Dua Drone Hobi Pecahkan Rekor Kecepatan 730 Km/Jam

Ahmad

No comments
Rekor Kecepatan Drone 730 Km/Jam
Foto: Teknologi via ithome.com

Dua orang penggemar drone baru saja mencatatkan rekor kecepatan tidak resmi yang spektakuler. Dalam uji coba tunggal, drone buatan mereka mampu mencapai kecepatan maksimum 453 mil per jam, atau setara dengan 730 kilometer per jam.

Baca Juga: LimX Luna Resmi Diluncurkan, Robot Manusia Canggih dengan 27 Sendi dan Kontrol Tanpa Kode

Sebagai perbandingan, kecepatan jelajah rata-rata pesawat komersial adalah sekitar 550 mil per jam (885 km/jam).

Dilansir dari ithome.com, dua pembuat drone yang dikenal dengan nama panggung Aidan dan Ben ini sebelumnya telah memegang rekor pada Desember 2025 dengan kecepatan 388 mil per jam (626 km/jam). Rekor tersebut kemudian dipecahkan oleh tim ayah-anak Bell dengan drone “Peregreen V4” yang mencapai 408 mil per jam. Untuk merebut kembali posisi teratas, Aidan dan Ben memodifikasi drone mereka yang diberi kode “Blackbird” dengan baling-baling baru dan merilis video uji coba di YouTube.

Baca Juga: Samsung Luncurkan Tiga Peralatan Dapur Pintar Terbaru dengan Fitur AI Canggih

Rahasia performa tinggi drone ini terletak pada baling-baling yang dibuat secara manual dari serat karbon. Baling-baling tersebut dirancang dengan pitch besar, yaitu sudut bilah yang curam.

Meskipun sudut pastinya masih dirahasiakan, desain ini membuat bilah lebih sejajar dengan arah terbang, sehingga mengurangi hambatan dan meningkatkan efisiensi pada kecepatan tinggi. Namun, kelemahannya adalah pada kecepatan rendah seperti lepas landas dan melayang, gaya dorong menjadi lemah dan konsumsi daya baterai melonjak drastis dalam waktu singkat.

Inovasi lain adalah tepi depan baling-baling yang bergerigi. Bentuk ini sengaja dibuat untuk membangkitkan pusaran kecil di permukaan bilah, yang membantu menjaga aliran udara tetap menempel di sepanjang tepi belakang.

Dengan demikian, udara tidak terpisah dari bilah dan daya dorong tetap optimal. Gerigi juga menstabilkan lapisan batas udara tipis yang bertindak seperti pelumas, mengurangi hambatan.

Tanpa gerigi, sudut pitch yang besar bisa menyebabkan stall, di mana baling-baling kehilangan daya dorong dan hanya berfungsi seperti pengaduk.

Modifikasi awal langsung membuahkan hasil. Pada percobaan pertama, drone mencapai 393 mil per jam (633 km/jam).

Sayangnya, pada kecepatan setinggi itu, masalah sinyal seperti bentuk antena, efek Doppler, dan kelebihan beban data menyebabkan drone kehilangan koneksi. Tim menyadari bahwa drone pasti hancur, dan mereka tidak berusaha menemukannya.

Drone bisa terus terbang bermil-mil sebelum jatuh. Namun, tim masih memiliki drone cadangan dengan baling-baling yang disempurnakan, sehingga keesokan harinya mereka kembali menguji.

Baterai hanya cukup untuk dua kali percobaan, dan cuaca buruk mendekat. Tim segera merakit dan menerbangkan drone.

Angin kencang bertiup pada hari itu, sehingga mereka melakukan dua penerbangan: satu dengan angin dorong (downwind) dan satu melawan angin (upwind), lalu mengambil kecepatan rata-rata untuk memastikan akurasi. Penerbangan downwind mencatat 453 mil per jam, melampaui target 441 mil per jam.

Setelah dikurangi kecepatan angin 34 mil per jam, kecepatan udara sebenarnya adalah 419 mil per jam (674 km/jam). Penerbangan upwind mencapai 397 mil per jam (640 km/jam).

Rata-rata kedua adalah 425 mil per jam (685 km/jam), sedikit di bawah harapan tetapi tetap melampaui rekor dunia yang ada.

Setelah uji coba terakhir, drone kehabisan baterai saat masih beberapa meter di atas tanah dan jatuh cukup keras, menyebabkan kerusakan kecil. Untungnya, drone masih bisa diperbaiki.

Tim berencana memperbaikinya dan kemudian berusaha mendapatkan sertifikasi resmi untuk rekor kecepatan dunia. Sementara itu, drone pertama yang hilang akhirnya ditemukan oleh pemilik lahan dalam kondisi hancur total, sesuai perkiraan.

Baca Juga: Pendaftaran Samsung Solve for Tomorrow 2026 Segera Tutup, Alumni Bagikan Kisah Inovasi AI Inklusif

Pencapaian ini menunjukkan potensi luar biasa dari inovasi amatir di bidang drone. Dengan baling-baling karbon kustom dan desain tepi bergerigi, “Blackbird” mampu menembus batas kecepatan yang sebelumnya hanya bisa dicapai oleh pesawat berawak. Meskipun masih dalam tahap tidak resmi, publik menantikan upaya resmi mereka untuk mengukuhkan rekor dunia.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment