Pemerintah Amerika Serikat melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap Nobitex, bursa cryptocurrency terbesar di Iran. Langkah ini diambil karena Nobitex dinilai memfasilitasi transaksi yang terkait dengan aktivitas teroris dan kelompok peretas ransomware.
Baca Juga: Google Alokasikan Rp 1.200 Triliun untuk Pengembangan AI
Dilansir dari BleepingComputer, OFAC menyebut Nobitex telah membantu pengiriman uang dalam jumlah besar yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam penyelidikan, otoritas AS menemukan dompet digital yang digunakan oleh aktor ransomware yang berafiliasi dengan IRGC.
“Nobitex telah memberikan dukungan signifikan kepada rezim, memproses lebih dari 50 persen dari seluruh aliran masuk aset digital Iran pada tahun 2025 dan memfasilitasi pembayaran yang terkait dengan aktivitas teroris Iran, upaya penghindaran sanksi, serta transaksi yang terhubung dengan IRGC, termasuk aktivitas yang terkait dengan aktor ransomware afiliasi IRGC,” demikian pernyataan Departemen Keuangan AS.
Baca Juga: Insta360 Luna Ultra Perkenalkan Modul Head Tracking Pertama di Dunia
Selain itu, Nobitex juga membantu Bank Sentral Iran mengakses ratusan juta dolar dalam bentuk stablecoin yang digunakan untuk menopang nilai tukar rial Iran yang terus merosot. Dengan demikian, bursa ini memungkinkan pihak dalam rezim untuk mengakses bursa kripto internasional dan menghindari sanksi di berbagai yurisdiksi.
OFAC juga menetapkan sanksi terhadap individu-individu tertentu yang diidentifikasi sebagai eksekutif dan pendiri Nobitex, termasuk ketua Amir Hossein Rad, CEO Seyed Ali Khoee, salah satu pendiri Seyed Mohammad Ali Aghamir Mohammad Ali, dan pimpinan blockchain Seyed Mohammad Aghamir Mohammad Ali.
Tindakan ini merupakan bagian dari kampanye “Economic Fury” yang dilancarkan pemerintah AS. Selain Nobitex, sanksi juga dijatuhkan pada tiga bursa kripto Iran lainnya, yaitu Wallex, Bitpin, dan Ramzinex.
Data dari perusahaan intelijen blockchain Chainalysis menunjukkan bahwa ekosistem cryptocurrency Iran menerima hampir US$7,8 (kisaran Rp1 jutaan) miliar pada tahun 2025. Perusahaan tersebut memperkirakan bahwa alamat yang terkait dengan IRGC mencakup lebih dari 50% dari total nilai yang diterima oleh ekosistem kripto Iran pada kuartal IV 2025.
Nobitex memproses lebih dari setengah aliran masuk kripto Iran, sementara Wallex dan Bitpin masing-masing menyumbang 12% dan 10%.
Dari sisi praktis, sanksi ini berarti bahwa semua properti atau aset milik entitas dan individu yang ditunjuk yang berada di bawah yurisdiksi AS akan dibekukan. Warga negara AS dilarang melakukan bisnis apa pun dengan mereka.
Sanksi ini juga menciptakan tekanan internasional, karena sekutu AS dan perusahaan yang berbasis di luar negeri enggan mengambil risiko dengan berbisnis dengan pihak yang terkena sanksi.
Baca Juga: Harga Laptop Nvidia RTX Spark Bocor, Mulai Rp 28 Jutaan
Sebelumnya, pada Juni 2025, kelompok peretas pro-Israel “Predatory Sparrow” mengaku telah membobol Nobitex dan mencuri aset digital senilai sekitar US$90 (kisaran Rp2 jutaan) juta serta meninggalkan pesan bermuatan politik.








Leave a Comment