AI Kini ‘Mengintai’ Toilet Anda: Startup Ini Baru Raih Rp162 Miliar untuk Analisis Kesehatan lewat Kloset

Slamet

No comments
Perangkat smart toilet AI Throne One, TOTO Stool Scan, dan analisis kesehatan berbasis AI - smart toilet AI - sumber dari ITHome
Ilustrasi smart toilet AI. Sumber: ITHome.

Bayangkan kloset Anda bisa memberi tahu kondisi kesehatan hanya dari kebiasaan buang air. Ini bukan fiksi ilmiah — sejumlah perusahaan teknologi kini serius mengembangkan smart toilet bertenaga AI yang bisa memindai dan menganalisis apa yang Anda tinggalkan di toilet.

Dikutip dari ITHome, startup asal Amerika, Throne Science, baru saja menutup putaran pendanaan Seri A senilai US$10 juta atau sekitar Rp162 miliar. Startup ini didirikan oleh John Capodilupo — salah satu pendiri brand wearable WHOOP — dan mengembangkan perangkat bernama Throne One.

Throne One adalah kamera pintar yang bisa dijepitkan ke bibir kloset. Perangkat ini menggunakan sensor berbasis AI untuk memindai tinja dan urine pengguna, lalu mengirimkan data ke aplikasi pendamping. Semua dilakukan otomatis tanpa perlu input manual dari pengguna.

Perangkat Throne One yang dijepitkan ke bibir toilet - smart toilet AI - sumber dari ITHome
Throne One, perangkat kamera pintar yang dijepitkan ke bibir toilet. Sumber: ITHome.

Tak Hanya Throne, Pemain Besar Ikut Meramaikan

Throne bukanlah satu-satunya pemain. Raksasa sanitary ware Jepang, TOTO, telah meluncurkan Stool Scan — sensor bawaan di dalam kloset yang mengukur bentuk, tingkat kekerasan, warna, dan volume tinja. Data dikirim ke aplikasi smartphone dan TOTO berencana membawa produk ini ke pasar AS pada awal 2027.

Produk TOTO Stool Scan di Jepang - smart toilet AI - sumber dari ITHome
TOTO Stool Scan, produk smart toilet yang sudah tersedia di Jepang. Sumber: ITHome.

Tak ketinggalan, Kohler dengan Dekoda-nya bisa mendeteksi tanda-tanda darah dalam tinja dan dehidrasi dari urine. Ada pula Vivoo yang fokus pada analisis urine dan tingkat hidrasi tubuh, serta Withings U-Scan yang juga menganalisis urine melalui perangkat yang dipasang di kloset.

Dari Toilet ke Data Kesehatan: Seberapa Berguna?

Menurut Brian Comiskey, Senior Director Innovation & Trends di Consumer Technology Association, tren smart toilet mulai memanas sejak 2023. Pendorongnya: kemajuan sensor dan AI, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan pencernaan, serta perkembangan pasar wearable device.

Nilai utama perangkat ini terletak pada kemampuannya merekam data secara kontinu. Dr. Kyle Staller, gastroenterolog dari Massachusetts General Hospital, mengatakan data objektif otomatis jauh lebih bisa diandalkan ketimbang pasien yang harus mengingat-ingat kebiasaan BAB mereka sendiri.

Tampilan aplikasi Throne One untuk memantau kesehatan - smart toilet AI - sumber dari ITHome
Tampilan aplikasi Throne One untuk memantau data kesehatan pengguna. Sumber: ITHome.

Namun Dr. Staller juga mengingatkan bahwa AI saat ini baru bisa “melihat”, belum bisa “mendiagnosis”. Stres, kurang tidur, obat-obatan, pola makan, hormon, bahkan genetik bisa memengaruhi sistem pencernaan. “Kita memiliki lebih banyak data daripada yang bisa kita interpretasikan secara valid. Hype saat ini agak mendahului sains,” ujarnya.

Bukan Alat Diagnostik — Untuk Sekarang

Untuk saat ini, semua smart toilet ini diposisikan sebagai alat manajemen kesehatan, bukan alat diagnostik medis. TOTO menegaskan produknya hanya melacak status dan tren buang air — bukan membuat kesimpulan diagnostik. Jika ke depannya ingin digunakan untuk skrining kanker kolon atau penyakit pencernaan serius, persetujuan dari FDA (Badan Pengawas Obat AS) wajib dikantongi lebih dulu.

Tapi ambisi para pemain tak berhenti di situ. Throne berencana mengembangkan sensor pencitraan multispektral untuk mendeteksi jejak darah yang tak kasat mata, plus sensor gas dan biomarker lainnya. Visi jangka panjang mereka: menjadikan perangkat ini semacam “alarm asap” untuk kanker usus besar.

Masa Depan: 6–10 Tahun Menuju Adopsi Massal

Comiskey memperkirakan adopsi smart toilet akan berjalan bertahap, dengan potensi massal dalam 6–10 tahun ke depan. Berbeda dari smartwatch atau smart ring yang perlu dipakai secara sadar, toilet adalah kebutuhan harian yang tak terhindarkan — menjadikannya titik pengumpulan data kesehatan yang konsisten dan pasif.

Pertanyaannya sekarang: siapkah kita berbagi data paling privat — isi kloset — ke cloud AI?

Baca Juga:

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Slamet

Slamet adalah jurnalis teknologi yang sudah menulis sejak 2010, dengan spesialisasi di bidang smartphone, aplikasi mobile, gadget, AI, crypto, hingga kendaraan listrik. Ia merupakan pendiri dan editor utama AndroidPonsel.com, sebuah portal teknologi yang mengedepankan informasi akurat, praktis, dan mudah dicerna.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment