PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) dan PT CCSI Konektivitas Digital menandatangani Berita Acara Kesepakatan (BAK) pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) SUB-2 di Bali pada 29 September 2026. Penandatanganan dilakukan Direktur Planning InfraNexia Ronny Arnaz dan Direktur Utama CCSI-KD Peter Djatmiko, disaksikan Direktur Network Telkom Nanang Hendarno serta Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf. Rute kabel laut SUB-2 akan menghubungkan Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan, menjadi penegasan kolaborasi strategis yang berkelanjutan untuk memperkuat tulang punggung konektivitas nasional.
Kesepakatan ini hadir di tengah lonjakan konsumsi data digital yang konsisten meningkat, terutama untuk layanan video, komputasi awan, dan ekosistem digital lintas pulau. Kabel laut SUB-2 dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan kapasitas yang kian mendesak sekaligus memastikan infrastruktur siap menyerap pertumbuhan trafik data masa depan. Hal ini sejalan dengan kesiapan kapasitas jaringan internet hingga 607 Tbps yang mencerminkan pentingnya penguatan backbone serat optik antar pulau. Rute Jawa-Sulawesi-Kalimantan dipilih karena menjadi koridor ekonomi digital dengan pertumbuhan trafik paling tinggi, sehingga proyek ini bukan sekadar penambahan kabel, melainkan fondasi bagi layanan data generasi berikutnya.
Penandatanganan BAK ini mempertegas kelanjutan kerja sama antara TelkomGroup melalui InfraNexia dan CCSI-KD dalam rencana pembangunan SKKL SUB-2. InfraNexia, sebagai operating company TelkomGroup, memiliki mandat untuk mengelola dan memperluas infrastruktur jaringan tetap. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pembangunan kabel laut berskala besar kini dikerjakan secara terpadu, memanfaatkan aset domestik sekaligus kapabilitas mitra penyedia infrastruktur. Langkah konsolidasi infrastruktur ini tidak terlepas dari spin-off InfraNexia yang menguasai aset jaringan Telkom, sehingga entitas ini memegang peran kunci dalam proyek kabel laut strategis. Dengan menggandeng CCSI-KD, pengerjaan SKKL SUB-2 diharapkan memadukan kekuatan aset domestik dan keahlian teknis penyedia infrastruktur kabel bawah laut.
Pembangunan SKKL SUB-2 akan memberikan tiga manfaat utama: kapasitas transmisi jauh lebih besar, latensi lebih rendah untuk komunikasi antar pulau, serta redundansi jalur yang meningkatkan keandalan layanan. Jika salah satu kabel eksisting mengalami gangguan, lalu lintas data dapat dialihkan melalui rute SUB-2 sehingga risiko pemadaman pada layanan perbankan, pemerintahan, dan komersial dapat diminimalkan. Arsitektur semacam ini menjadi krusial bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, karena kabel laut adalah satu-satunya medium yang mampu menghadirkan kecepatan tinggi dan stabilitas pada jarak ratusan kilometer. Dengan tambahan kapasitas ini, TelkomGroup berupaya menjaga kualitas layanan tetap prima di seluruh wilayah yang dilalui rute tersebut.
InfraNexia, sebagai operating company TelkomGroup, terus menunjukkan peran sentral dalam mengonsolidasikan aset dan kapabilitas infrastruktur telekomunikasi nasional. Sepanjang semester I 2026, perusahaan mencatatkan kinerja pendapatan InfraNexia Rp7,7 triliun semester I 2026, menandai pertumbuhan solid di tengah permintaan konektivitas yang meningkat. Capaian ini sejalan dengan strategi Telkom di bisnis infrastruktur digital yang menempatkan InfraNexia sebagai ujung tombak ekspansi jaringan tulang punggung domestik dan internasional. Melalui penguasaan aset kabel laut, menara, dan fiber optik, InfraNexia memiliki posisi tawar kuat untuk mendukung proyek strategis seperti SKKL SUB-2.
Pembangunan SKKL SUB-2 tidak dapat dipisahkan dari arah transformasi digital TelkomGroup yang semakin fokus pada layanan data center dan kecerdasan artifisial berdaulat. Infrastruktur kabel laut dengan kapasitas besar menjadi prasyarat utama untuk menghubungkan pusat data antarwilayah dan menjaga latensi rendah. Langkah InfraNexia memperkuat kolaborasi dengan CCSI-KD juga sejalan dengan inisiatif data center sovereign AI TelkomGroup-Danantara yang menuntut ketersediaan jalur transmisi berkecepatan tinggi lintas pulau. Dengan konektivitas Jawa-Sulawesi-Kalimantan yang andal, distribusi beban komputasi dan penyimpanan data dapat dilakukan secara lebih efisien, membuka ruang bagi pengembangan layanan AI domestik yang aman dan mandiri.
Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan menandai masuknya proyek SUB-2 ke fase pra-implementasi yang lebih konkret. Kedua pihak sepakat membentuk Komite Manajemen Interim (KMI) untuk mengawal pembahasan aspek teknis, komersial, hingga penyusunan perjanjian definitif. KMI berperan sebagai forum koordinasi yang memastikan setiap keputusan prinsip segera ditindaklanjuti dengan kajian kelayakan, desain jaringan, dan struktur pendanaan. Ronny Arnaz menilai pembentukan KMI menjadi langkah penting agar proses negosiasi berjalan terstruktur dan akuntabel. Dari sisi tata kelola, mekanisme ini juga meminimalkan risiko keterlambatan proyek karena seluruh parameter kunci harus disepakati sebelum kontrak final ditandatangani. Pendekatan bertahap ini lazim dipakai pada proyek infrastruktur kabel laut yang melibatkan investasi besar, karena setiap tahap teknis dan komersial perlu divalidasi sebelum konstruksi dimulai.
Dalam sambutannya, Ronny Arnaz menegaskan, “Kami melihat SKKL SUB-2 bukan hanya sebagai pembangunan infrastruktur, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama untuk memperkuat konektivitas Indonesia. Dengan kapabilitas yang saling melengkapi, kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi industri dan mendukung konektivitas yang semakin luas di Indonesia.” Pernyataan tersebut menegaskan orientasi proyek pada peningkatan kualitas layanan. Bagi konsumen, kehadiran SKKL SUB-2 akan memperkuat kapasitas backhaul antar pulau, mengurangi ketergantungan pada jalur tunggal, dan menekan risiko kongesti saat trafik data melonjak. Pengguna internet di Sulawesi dan Kalimantan berpotensi menikmati latensi lebih rendah dan stabilitas akses yang lebih baik, terutama untuk layanan streaming, komputasi awan, dan aplikasi real-time. Ekosistem digital nasional juga diuntungkan karena operator seluler, penyedia layanan internet, dan pelaku industri dapat merancang produk berbasis bandwidth tinggi tanpa khawatir keterbatasan infrastruktur.
Baca Juga:









Leave a Comment