Dikutip dari Dark Reading. DEFCON 2026 di Las Vegas kembali menghadirkan penelitian yang mengguncang lanskap keamanan siber. Tim Tenet Security memperkenalkan “GhostJacking”, sebuah teknik serangan yang memanfaatkan agen AI milik perusahaan untuk menerobos pertahanan firewall dan mencuri data sensitif — tanpa memicu alarm keamanan satu pun. Temuan ini menjadi peringatan serius bagi perusahaan Indonesia yang kini kian agresif mengadopsi agentic AI dan coding assistant otomatis.
Apa Itu GhostJacking?
GhostJacking adalah evolusi lanjutan dari teknik “Agentjacking”, di mana penyerang menyalahgunakan agen AI internal korban untuk membuka jalur rahasia di sekitar firewall. Berbeda dengan serangan siber konvensional yang mencoba “mendobrak” pertahanan, GhostJacking justru memanfaatkan akses yang sudah dimiliki agen AI — akses yang sah menurut sistem. Akibatnya, firewall tetap menyala dan terlihat normal, namun sepenuhnya tidak relevan karena lalu lintas email dan web sudah dialihkan melalui jalur alternatif yang dikendalikan penyerang.
Yang membuat teknik ini sangat mengkhawatirkan adalah fakta bahwa setengah dari perusahaan Fortune 500 rentan terhadap serangan yang dimungkinkan oleh agen AI mereka sendiri. Ini menunjukkan adanya celah fundamental dalam AI governance dan digital identity yang selama ini terabaikan: identitas non-manusia (seperti AI agent) memiliki akses istimewa tanpa pengawasan yang memadai.
Bagaimana Serangan Bekerja

Serangan GhostJacking mengeksploitasi celah identitas AI agent: agen-agen ini memiliki hak akses istimewa tetapi jarang diaudit karena tidak terikat identitas manusia. Audit trail lemah, otorisasi sering kali tidak granular, dan tidak ada pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap aksi yang dilakukan agen. Ini berbeda dengan akun karyawan yang biasanya dipantau ketat.
Satu laporan bug palsu saja sudah cukup untuk membajak coding assistant AI dan menjalankan kode penyerang di mesin pengembang. Lebih lanjut, penyerang dapat meninggalkan backdoor di konfigurasi agen, memori, dan tool-nya untuk akses persisten — termasuk pencurian data dan kredensial. Tim Tenet Security bahkan mendemonstrasikan “self-exploit”: satu agen AI membangun serangan yang kemudian diterima dan dieksekusi oleh agen AI lainnya, menciptakan rantai serangan yang sepenuhnya otonom.
Platform yang Terpapar

Penelitian ini menguji serangan GhostJacking pada tiga platform utama dan berhasil di ketiganya:
- Cloudflare: Digunakan oleh 42% perusahaan Fortune 500 dan membawa 1/5 dari seluruh trafik internet global. Saat Cloudflare memblokir permintaan mencurigakan, ia mencatatnya kata-per-kata ke dalam log. Log buatan penyerang ini kemudian dibaca AI agent sebagai temuan nyata — hasilnya, AI menulis ulang DNS, mengarahkan domain ke server penyerang, dan melaporkan masalah “terselesaikan”. Serangan berhasil 9 dari 10 kali terhadap Claude Code yang berjalan di setup yang direkomendasikan Cloudflare.
- Datadog: Digunakan oleh 48% Fortune 500. Kunci API yang seharusnya hanya untuk frontend sering kali dibiarkan publik — peneliti menemukan lebih dari 2.700 kunci semacam itu. Penyerang dapat menyisipkan “urgent diagnostic alert” palsu yang kemudian dibaca dan ditindaklanjuti oleh AI agent.
- Sentry: Digunakan oleh 4 juta pengembang. Peneliti memanfaatkan AI bawaan Sentry bernama “Seer” untuk memvalidasi serangan ke agen berikutnya dalam rantai, menciptakan “pengesahan berantai” yang meyakinkan sistem.
Seluruh temuan ini telah dilaporkan ke Sentry, Datadog, dan Cloudflare pada Juni 2026.
Mengapa Ini Berbahaya bagi Perusahaan Indonesia
Bagi enterprise Indonesia yang sedang bertransformasi digital dan mengadopsi coding assistant berbasis AI seperti GitHub Copilot, Claude Code, atau Codex, GhostJacking menghadirkan ancaman nyata. Banyak organisasi di Indonesia masih membangun fondasi cybersecurity mereka, dan celah identitas AI agent bisa menjadi titik buta yang tidak terdeteksi dalam audit keamanan standar. Tanpa zero trust security yang diterapkan hingga level identitas non-manusia, setiap AI agent dengan akses istimewa adalah potensi vector serangan.
Cara Mencegah GhostJacking
Berdasarkan rekomendasi tenet Security, berikut langkah-langkah mitigasi yang harus diterapkan:
- Deny outbound network secara default: Jangan biarkan AI agent memiliki akses jaringan keluar kecuali secara eksplisit diperlukan dan dibatasi ketat.
- Wajibkan persetujuan manusia: Setiap perintah berisiko tinggi dari AI agent harus memerlukan approval manusia sebelum dieksekusi.
- Pisahkan data dan instruksi: Jangan pernah membiarkan data yang dibaca agen menjadi instruksi yang dijalankannya. Ini mencegah injeksi log dan sejenisnya.
- Anggap setiap token berisiko: Token API, kunci, dan kredensial apa pun yang dapat dijangkau agen harus dianggap terekspos. Lakukan review terhadap setiap tool dan permission yang diberikan.
- Terapkan identity governance untuk non-human identity: Perlakukan identitas AI agent sama ketatnya dengan identitas manusia — dengan audit trail penuh, otorisasi granular, dan rotasi kredensial rutin.
Kesimpulan
GhostJacking mendefinisikan ulang cara kita memahami ancaman siber di era AI agent. Ini bukan lagi soal “apakah firewall kita cukup kuat”, melainkan “apakah agen AI kita bisa dipercaya dengan akses yang kita berikan?” GhostJacking adalah bukti bahwa pertahanan perimeter tradisional tidak lagi memadai ketika aktor di dalam perimeter — termasuk AI agent — bisa menjadi ancaman terselubung. Bagi perusahaan Indonesia, ini saatnya memasukkan identitas AI agent ke dalam strategi keamanan sebelum menjadi korban berikutnya.
Baca Juga:









Leave a Comment