Microsoft Percepat Kriptografi Pasca-Kuantum, Target 2029

Ahmad

No comments
Microsoft Percepat Adopsi Kriptografi Pasca-Kuantum ke 2029
Microsoft Percepat Kriptografi Pasca-Kuantum, Target 2029. Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Microsoft resmi mengumumkan percepatan peta jalan keamanan tahan kuantum pada hari Selasa. Langkah ini menandai urgensi baru dalam menghadapi ancaman komputasi kuantum yang kian nyata terhadap standar enkripsi yang ada.

Baca Juga: Serangan BioShocking Curi Kredensial Pengguna Lewat Peramban AI

Dilansir dari The Hacker News, raksasa teknologi itu kini menargetkan transisi produk dan layanan penting ke kriptografi pasca-kuantum (PQC) pada tahun 2029. Jadwal ini lebih agresif dari sebelumnya, sejalan dengan akselerasi Program Quantum Safe (QSP) yang akan ditanamkan ke dalam Secure Future Initiative (SFI).

Kepala Teknologi Microsoft Azure, Mark Russinovich, menegaskan bahwa kemajuan riset kuantum telah mengubah perhitungan risiko. “Kemajuan dalam penelitian dan pengembangan kuantum telah menggeser horizon risiko. Kami percaya komputer kuantum yang relevan secara kriptografis dapat datang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya – dan pekerjaan yang diperlukan untuk persiapan sangat signifikan, sehingga organisasi perlu memulai sekarang,” ujarnya.

Baca Juga: Studi ICCT: Transisi Listrik Agresif Bisa Selamatkan 8,8 Juta Nyawa pada 2050

Ada tiga area fokus utama dalam percepatan ini. Pertama, peningkatan kriptografi jaringan melalui adopsi TLS 1.3.

Kedua, membangun crypto-agility untuk data yang disimpan, memungkinkan perubahan kriptografi tanpa perlu mendesain ulang sistem. Ketiga, transisi ke algoritma PQC untuk mengamankan trust chains, termasuk penandatanganan kode, penerbitan sertifikat, perlindungan kunci, dan pipeline pembaruan.

Russinovich menambahkan bahwa pendekatan ini membawa kesiapan tahan kuantum ke dalam kerangka rekayasa yang disiplin. “Hal ini membawa kesiapan tahan kuantum ke dalam kerangka rekayasa disiplin yang sama yang kami gunakan untuk hasil keamanan penting lainnya: kepemilikan yang jelas, tonggak yang terukur, dan kemajuan yang transparan. Menanamkan kemampuan ini ke dalam platform kami memberdayakan pelanggan untuk bergerak lebih cepat dan lebih percaya diri,” katanya.

Crypto-agility menjadi kunci migrasi pasca-kuantum. Microsoft menekankan perlunya metadata kriptografi yang menggambarkan diri sendiri atau format ciphertext berversi, sehingga sistem dapat membaca data lama sambil menulis dengan algoritma terbaru.

Sistem yang dirancang baik harus mendukung pembacaan format lama selama masa migrasi, sementara data baru ditulis dengan konfigurasi yang telah disetujui.

Langkah Microsoft ini hadir di tengah gelombang regulasi dan inisiatif industri. Beberapa hari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan tenggat waktu keras bagi lembaga federal untuk memindahkan aset bernilai tinggi ke PQC.

Google dan Cloudflare juga telah mengumumkan komitmen serupa untuk mencapai keamanan kuantum pada 2029, termasuk program di browser Chrome untuk sertifikat HTTPS yang tahan kuantum.

Ancaman “harvest now, decrypt later” semakin diperkuat oleh temuan riset terbaru. Tim peneliti Google berhasil meningkatkan algoritma kuantum untuk memecahkan kriptografi kurva eliptik dengan qubit yang lebih sedikit. Sementara itu, akademisi dari Caltech dan Oratomic mendemonstrasikan pendekatan koreksi kesalahan baru yang dapat membuat algoritma Shor praktis hanya dengan 10.000 qubit, berpotensi memecahkan RSA-2048 dan P-256.

Baca Juga: Snapdragon Summit 2026 Diumumkan, Snapdragon 8 Elite Gen 6 Siap Rilis

Percepatan oleh Microsoft ini menjadi sinyal bahwa industri teknologi tidak bisa lagi menunda persiapan menghadapi era komputasi kuantum. Dengan tenggat 2029 yang semakin dekat, organisasi di seluruh dunia didorong untuk segera memulai transisi ke kriptografi pasca-kuantum sebelum terlambat.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment