Persaingan di industri kamera gimbal portabel memanas setelah DJI secara resmi melayangkan dua gugatan terhadap Insta360. Raksasa drone asal China itu menuduh Insta360 menjiplak desain dan teknologi kamera gimbal saku mereka, Osmo Pocket, pada seri kamera baru mereka, Luna.
Baca Juga: Fujifilm Luncurkan Teleskop Binokular FUJINON CC8x20 ED, Harga Mulai 1290 Yuan
Dua produk tersebut—Osmo Pocket 3 dan Insta360 Luna—kini menjadi pusat perhatian dalam sengketa hukum yang berpotensi mengubah lanskap industri.
Dilansir dari DJINews via Gizmochina, kedua gugatan tersebut diajukan pada 10 Juni 2026 di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Timur Texas. Langkah hukum ini menunjukkan eskalasi sengketa kekayaan intelektual antara dua pemain besar yang selama ini bersaing ketat di pasar kamera aksi dan gimbal.
Baca Juga: Kinefinity VISTA Bawa Kemampuan Sinema 6K Full-Frame ke Tubuh Ringkas 610 Gram
Pada gugatan pertama, DJI menyoroti paten desain yang mereka klaim dilanggar oleh kamera Luna Insta360. DJI yang dikenal dengan lini Osmo Pocket yang inovatif, menilai Luna memiliki kemiripan mencolok dengan Osmo Pocket 3, termasuk bodi genggam ramping, leher khas yang menghubungkan ke lengan gimbal, layar berputar, port samping, dan antarmuka di bagian bawah.
Semua elemen ini dinilai terlalu identik untuk dianggap kebetulan, sehingga membuka celah pelanggaran yang disengaja.
Sementara itu, gugatan kedua fokus pada empat paten utilitas yang mencakup teknologi penting pada kamera gimbal. DJI mendalilkan bahwa Insta360 menyalin fitur peralihan gimbal antara mode kunci (lock mode) dan mode ikuti (follow mode), sistem pelacakan subjek, serta integrasi tampilan waktu nyata dengan pergerakan gimbal.
Teknologi-teknologi ini menjadi fondasi pengalaman pengguna Osmo Pocket yang sebelumnya telah dipatenkan DJI.
Dalam dokumen pengadilan, DJI menegaskan bahwa Insta360 dengan sadar dan penuh pengetahuan melanggar paten-paten tersebut. Hal ini membuka peluang bagi DJI untuk menuntut ganti rugi yang ditingkatkan (enhanced damages) atas pelanggaran yang disengaja.
Tak tanggung-tanggung, DJI meminta pengadilan mengeluarkan larangan permanen terhadap penjualan produk seri Luna di pasar Amerika Serikat.
Selain itu, DJI juga menuntut ganti rugi finansial yang signifikan. Minimal, mereka menuntut pembayaran royalti yang wajar, namun tidak menutup kemungkinan mengejar pencabutan seluruh keuntungan (disgorgement of profits) yang diperoleh Insta360 dari penjualan kamera Luna.
Ini menandakan betapa seriusnya DJI memandang pelanggaran ini.
Menariknya, perseteruan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada awal 2026, DJI sudah terlebih dahulu mengajukan klaim kepemilikan paten di China.
Klaim itu terkait invensi yang diduga dikembangkan oleh mantan insinyur DJI yang kemudian bergabung dengan Insta360. Langkah ini menunjukkan bahwa sengketa telah berlangsung lintas negara dan jauh lebih kompleks dari yang terlihat.
Di sisi lain, Insta360 yang baru saja meluncurkan seri Luna, tak tinggal diam. Perusahaan telah memberi sinyal akan membela diri dengan gigih, termasuk kemungkinan mengajukan gugatan balik (countersuit) terkait kekayaan intelektual mereka sendiri di ranah kamera gimbal saku dan pencitraan 360 derajat.
Duel hukum ini diperkirakan akan berlangsung sengit dan berkepanjangan, menguras energi kedua belah pihak.
Apapun hasilnya di pengadilan, kasus ini berpotensi memengaruhi strategi pengembangan produk dan pemasaran kedua perusahaan ke depannya. Lebih luas lagi, vonis pengadilan nantinya dapat menjadi preseden penting bagi sengketa kekayaan intelektual lintas batas di industri pencitraan yang semakin kompetitif.
Baca Juga: VISTILEN Rilis Lensa 85mm F1.4 Autofokus dengan EFR Mount, Kompatibel dengan Canon RF
Publik kini menantikan respons resmi dari kedua pihak serta perkembangan lebih lanjut di pengadilan Texas. Yang jelas, persaingan DJI dan Insta360 kini tak hanya bertarung di pasar, tetapi juga di ruang sidang.








Leave a Comment