Kinefinity VISTA Bawa Kemampuan Sinema 6K Full-Frame ke Tubuh Ringkas 610 Gram

Ahmad

No comments
Kinefinity VISTA: Kamera Sinema 6K Ringkas 610g
Kinefinity VISTA Bawa Kemampuan Sinema 6K Full-Frame ke Tubuh Ringkas 610 Gram. (Foto: ithome.com)

Kinefinity menghadirkan gebrakan di dunia kamera sinema dengan VISTA, sebuah perangkat mungil yang membawa kemampuan perekaman 6K full-frame ke tangan para kreator independen. Dengan bobot hanya 610 gram, VISTA menjadi salah satu kamera sinema full-frame teringan yang pernah dibuat, menawarkan kebebasan bergerak tanpa mengorbankan kualitas gambar profesional.

Baca Juga: VISTILEN Rilis Lensa 85mm F1.4 Autofokus dengan EFR Mount, Kompatibel dengan Canon RF

Dilansir dari ithome, VISTA dirancang khusus untuk pembuat film yang menginginkan standar sinema tinggi tetapi enggan dibebani sistem kamera tradisional yang berat dan rumit. Kamera ini sudah dapat dipesan dengan harga spesial pra-peluncuran.

VISTA mengandalkan sensor CMOS full-frame 6K dengan aspek rasio 3:2. Mode Open Gate-nya memanfaatkan seluruh area sensor, memberikan fleksibilitas maksimal dalam pengambilan gambar, termasuk kemampuan merekam dengan lensa anamorphic secara native.

Baca Juga: Oppo dan Vivo Dikabarkan Kembangkan Gimbal Kamera 200MP

Ini adalah fitur yang biasanya hanya ditemukan di kamera sinema kelas atas.

Dukungan perekaman mencakup resolusi 6K hingga 50 fps dalam format full-frame, sementara mode Super 35 memungkinkan pengambilan gambar 4K pada 100 fps untuk efek gerak lambat yang halus. Dual native ISO 800/5120 memastikan performa noise rendah di berbagai kondisi pencahayaan, dari studio terang hingga lokasi minim cahaya.

Mengadopsi color science KineLOG3, VISTA menyediakan profil warna yang kaya dan siap diwarnai. Kamera ini mendukung LUT 3D internal serta penyesuaian oleh pengguna, bahkan bisa langsung dibakar ke rekaman.

Untuk format, tersedia opsi H.265 dengan tiga tingkat bitrate dan ProRes 422 HQ, semuanya dalam wadah. mov yang memudahkan alur kerja pasca-produksi.

Salah satu terobosan VISTA adalah integrasi SSD internal berkapasitas 220 GB. Untuk pertama kalinya di kelasnya, pengguna bisa langsung merekam tanpa perlu kartu memori eksternal, mempercepat proses mulai syuting.

Bagi yang membutuhkan media lebih besar atau kecepatan lebih tinggi, slot CFexpress Type B tetap tersedia.

Monitor 4 inci Retina OLED dengan kecerahan 700 nit dapat dilipat, memudahkan pengambilan gambar dari berbagai sudut. Layar ini menampilkan tampilan Open Gate secara penuh, sehingga semua informasi frame terlihat jelas.

Ditambah bodi aluminium aerospace hasil CNC dan sistem pendingin aktif dengan noise rendah, VISTA dijamin andal untuk sesi rekam panjang.

Setiap unit VISTA dibekali tiga pilihan mount lensa: KineMOUNT, Active PL, dan Active E. Ini membuka kompatibilitas luas dengan berbagai lensa, termasuk melalui ekosistem adaptor Kinefinity. Untuk konektivitas, tersedia dua port HDMI ukuran penuh, dua USB-C, Wi-Fi, dan Bluetooth, sehingga kamera siap diintegrasikan ke dalam rig profesional apa pun.

VISTA sudah bisa dipesan melalui situs resmi Kinefinity. Harga normalnya adalah 16.900 yuan (kisaran Rp44,90 juta), tetapi hingga 18 Juni 2026 berlaku harga early bird 12.900 yuan (kisaran Rp34,27 juta), lebih hemat 4.000 yuan (kisaran Rp10,63 juta).

Pengiriman dijadwalkan mulai 20 Juni 2026.

Kinefinity sendiri bukan nama baru. Didirikan pada 2012 di Beijing, perusahaan ini sebelumnya telah meluncurkan KineRAW-S35, kamera sinema profesional pertama yang membawa format RAW ke pasar film Tiongkok.

Baca Juga: Sony Kembangkan Sensor 65mm RIALTO 65 untuk CineAltaV 2

Sejak 2021, dua unit kamera MAVO Edge bahkan ikut mengorbit di stasiun luar angkasa China, menegaskan reputasi mereka di industri.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment