FBI dan Google Bongkar Operasi Phishing AI Outsider Enterprise, Kerugian US$1,9 Miliar

Ahmad

No comments
FBI & Google Takedown Phishing AI 'Outsider Enterprise'
FBI dan Google Bongkar Operasi Phishing AI Outsider Enterprise, Kerugian US$1,9 Miliar. Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) bersama Google dan Black Lotus Labs berhasil melumpuhkan sebuah operasi kejahatan siber besar yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Operasi bertajuk ‘Outsider Enterprise’ ini merupakan layanan phishing-as-a-service yang telah mencuri jutaan data kartu kredit dan kredensial pengguna.

Baca Juga: Pemerintah AS Paksa Anthropic Nonaktifkan Model AI Fable 5 dan Mythos 5

Dilansir dari BleepingComputer, Outsider Enterprise diketahui aktif sejak tahun 2023 dan berbasis di China. Kelompok ini mendistribusikan ‘phishing kit’ melalui Telegram untuk melancarkan kampanye SMS palsu yang menyamar sebagai merek-merek tepercaya seperti Google, AT&T, T-Mobile, dan Verizon.

Dalam aksinya, Google berhasil mengaitkan sekitar 9.000 situs web palsu dan lebih dari satu juta URL berbahaya ke Outsider Enterprise. Diperkirakan, kampanye phishing yang dijalankan telah mencuri lebih dari 3,8 juta rekor kartu kredit dan menimbulkan kerugian finansial hingga US$1,9 miliar.

Baca Juga: Mark Zuckerberg Sebut Tim Kecil Bisa Dorong Kemajuan AI, Tidak Perlu Ratusan Peneliti

“Gugatan perdata kami menargetkan operasi kejahatan siber terorganisir yang dikenal sebagai ‘Outsider Enterprise’. Berbasis di China dan berkoordinasi melalui Telegram, jaringan ini mendistribusikan ‘phishing kits’ yang memungkinkan para pelaku kejahatan mengirimkan kampanye teks palsu yang tampak seperti dari Google dan merek tepercaya lainnya,” kata Google dalam pernyataannya.

Penindakan terhadap Outsider Enterprise merupakan bagian dari Operasi Riptide yang lebih besar oleh FBI, yang menyasar aktivitas dan infrastruktur kriminal siber. Dalam penggerebekan teknis, FBI dan mitranya menyita sejumlah server administrasi, toko e-commerce Shopify yang digunakan untuk keperluan operasional, serta akun pengujian layanan phishing.

Selain itu, US$100.000 dalam bentuk USDT dari dompet pembayaran Outsider Enterprise turut disita.

Ribuan domain phishing yang terdaftar di penyedia Amerika Serikat kini dialihkan ke halaman splash FBI. FBI juga mengambil alih bot Telegram yang terhubung dengan Outsider Enterprise, yang berisi informasi tentang pelanggan layanan phishing tersebut.

Langkah ini menunjukkan kolaborasi erat antara penegak hukum dan sektor swasta dalam memerangi kejahatan digital.

Dampak dari operasi ini sangat luas. Dalam periode dua minggu pada bulan Mei saja, tercatat 2,5 juta pesan SMS telah dikirim dari infrastruktur Outsider Enterprise ke pengguna Android.

Dari jumlah tersebut, 55.000 pesan ditandai sebagai penipuan oleh pengguna Android. Google sendiri telah memperkuat perlindungan dengan pertahanan bertenaga AI yang mendeteksi panggilan mencurigakan dan memblokir lebih dari 10 miliar pesan berbahaya setiap bulannya.

Google juga mengambil langkah hukum dengan mengajukan gugatan perdata terhadap infrastruktur operasi ini. Selain itu, mereka berkoordinasi dengan AT&T, T-Mobile, dan Verizon untuk memblokir pesan-pesan penipuan sebelum mencapai pelanggan.

Di sisi regulasi, Google mendukung tujuh rancangan undang-undang anti-penipuan bipartisan di AS, termasuk Stop SCAMS Act yang mewajibkan FBI memimpin strategi anti-penipuan nasional.

Baca Juga: Anker Rilis Charger 160W dengan Layar, Dukung Xiaomi 120W dan Huawei 66W

Pembongkaran Outsider Enterprise menjadi pengingat betapa masifnya ancaman phishing berbasis AI saat ini. Dengan kolaborasi multinasional dan pemanfaatan teknologi canggih, diharapkan ruang gerak para pelaku kejahatan siber semakin menyempit.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment