BSNL Luncurkan Ponsel Satelit di India: Bisa Telepon Tanpa Sinyal, Harga Rp21 Jutaan

Slamet

No comments
Ilustrasi ponsel satelit BSNL dengan koneksi satelit global - karya ilustrasi AI
Gambar ilustrasi dibuat menggunakan AI.

Bayangkan kamu sedang mendaki gunung, berlayar di laut lepas, atau bertugas di pelosok pedalaman — lalu tiba-tiba butuh komunikasi darurat, tapi sinyal HP nihil. Masalah klasik yang dihadapi siapa pun yang beraktivitas di luar jangkauan tower BTS ini kini punya jawaban baru dari India. BSNL (Bharat Sanchar Nigam Limited), operator telekomunikasi pelat merah India, resmi meluncurkan ponsel satelit yang bisa melakukan panggilan suara langsung melalui satelit — tanpa perlu bergantung pada jaringan seluler konvensional sama sekali.

Ponsel satelit BSNL ini dibanderol dengan harga Rs 1,34,166 atau sekitar Rp21 jutaan (sekitar $1.400) termasuk pajak. Dilansir dari Gizmochina, perangkat ini merupakan hasil kolaborasi antara BSNL dan Inmarsat, penyedia layanan komunikasi satelit global yang sudah puluhan tahun berpengalaman menghubungkan wilayah-wilayah terpencil di seluruh dunia — dari kapal di tengah samudra hingga base camp di pegunungan terpencil.

Ponsel satelit BSNL - sumber dari Gizmochina
Ponsel satelit BSNL. Sumber: Gizmochina.

Baca Juga:

Dari segi desain, ponsel ini dibangun dengan body rugged yang dirancang tangguh menghadapi kondisi outdoor paling ekstrem — hujan, debu, benturan, hingga suhu yang tidak bersahabat. Baterainya diklaim tahan lama untuk operasi berkepanjangan di lokasi yang minim akses listrik. Yang paling krusial, perangkat ini dilengkapi tombol SOS darurat yang bisa jadi penyelamat dalam situasi kritis: bencana alam, misi pencarian dan penyelamatan, atau keadaan darurat di lingkungan yang jauh dari peradaban.

BSNL menegaskan bahwa ponsel satelit ini bukan untuk pengguna smartphone sehari-hari. Target pasarnya sangat spesifik: sektor pertahanan, tanggap bencana, layanan maritim, pertambangan, operasi industri, tim peneliti lapangan, peziarah yang melintasi rute terisolasi, hingga petualang yang mengeksplorasi destinasi ekstrem. Intinya, perangkat ini hadir untuk situasi di mana infrastruktur telekomunikasi darat sama sekali tidak tersedia. Dalam skenario seperti itu, komunikasi satelit tetap bisa beroperasi — dan itulah nilai jual utamanya.

Baca Juga:

Yang menarik, regulasi di India cukup ketat untuk perangkat semacam ini. Pembelian dan penggunaan ponsel satelit memerlukan otorisasi resmi dari Department of Telecommunications (DoT) India. Mengoperasikan ponsel satelit tanpa izin bisa berujung pada tindakan hukum. Regulasi ketat ini cukup masuk akal mengingat sifat komunikasi satelit yang bisa melampaui batas yurisdiksi nasional — isu yang juga jadi perdebatan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di luar peluncuran ponsel satelit ini, BSNL juga sedang gencar memperkuat jaringan nasionalnya dengan menggelar hampir 99.000 site 4G di seluruh India. Strategi dua jalur ini menarik: satelit untuk wilayah yang benar-benar blank spot dan tidak mungkin dijangkau tower, sementara 4G darat untuk konektivitas massal di area berpenduduk. Dengan populasi 1,4 miliar dan geografi yang sangat beragam, India memang butuh pendekatan hybrid seperti ini.

Lalu, apa relevansinya buat Indonesia? Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, konsep ponsel satelit semacam ini sebenarnya sangat dibutuhkan. Meskipun Starlink sudah masuk ke Indonesia untuk layanan internet satelit, kehadiran ponsel satelit yang terjangkau untuk panggilan suara masih menjadi kebutuhan yang belum terpenuhi. Saat ini opsi yang tersedia masih terbatas pada perangkat premium seperti Iridium atau Inmarsat yang harganya bisa dua kali lipat dari yang ditawarkan BSNL — dan itupun umumnya hanya dipakai instansi pemerintah, militer, atau perusahaan besar.

Dengan BSNL yang kini membuka jalan di India, bukan tidak mungkin ini menjadi katalis bagi operator telekomunikasi di Asia Tenggara — termasuk Telkomsel, Indosat, atau XL — untuk mulai melirik lebih serius teknologi ponsel satelit sebagai solusi konektivitas di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal). Teknologi satelit orbit rendah (LEO) yang makin matang juga membuka peluang harga perangkat dan layanan yang makin terjangkau dalam beberapa tahun ke depan. Yang jelas, kebutuhan akan komunikasi yang tidak bergantung pada tower BTS akan selalu relevan — entah itu untuk nelayan di pulau terpencil, tim SAR di pegunungan, atau siapa pun yang hidup dan bekerja di luar jangkauan sinyal.

Baca Juga:

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Slamet

Slamet adalah jurnalis teknologi yang sudah menulis sejak 2010, dengan spesialisasi di bidang smartphone, aplikasi mobile, gadget, AI, crypto, hingga kendaraan listrik. Ia merupakan pendiri dan editor utama AndroidPonsel.com, sebuah portal teknologi yang mengedepankan informasi akurat, praktis, dan mudah dicerna.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment