The Telkom Hub Nol Emisi Operasional, 45.407 Sertifikat Energi Hijau Terbeli

Ahmad

No comments
Ilustrasi The Telkom Hub net zero emisi - Telkom - sumber dari telkom.co.id

Jakarta — Komitmen dekarbonisasi di sektor telekomunikasi Indonesia kembali mencatat tonggak baru. Kawasan The Telkom Hub resmi dinyatakan mencapai net zero emisi untuk Cakupan 1 dan Cakupan 2, seiring diterimanya Renewable Energy Certificate (REC) serta Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) dari PT Energy Management Indonesia (EMI). Capaian ini menempatkan Telkom pada jalur yang lebih terukur untuk mengejar target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Bagi industri digital, langkah ini lebih dari sekadar seremonial sertifikat. Infrastruktur telekomunikasi — mulai dari data center, base transceiver station (BTS), hingga kantor operasional — adalah salah satu konsumen listrik terbesar di Tanah Air. Artinya, setiap inisiatif efisiensi energi di sektor ini punya efek berantai yang signifikan terhadap upaya nasional menekan emisi.

Dua Instrumen, Satu Tujuan: Memangkas Emisi Operasional

Ada dua pendekatan yang dipakai Telkom untuk mengerek capaian ini. Pertama, pengelolaan emisi langsung lewat efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan di lokasi operasional. Kedua, penggunaan instrumen berbasis pasar seperti REC untuk meng-offset emisi listrik yang tetap berasal dari jaringan konvensional. Kombinasi keduanya memungkinkan perusahaan menekan jejak karbon tanpa mengorbankan keandalan layanan.

Yang menarik, emisi yang dikelola bukan hanya yang keluar dari cerobong atau gas buang. Telkom memetakan secara menyeluruh, mulai dari konsumsi listrik gedung, sistem pendingin, hingga pengelolaan limbah sebagai bagian dari rantai dekarbonisasi. Pendekatan menyeluruh inilah yang membedakan strategi korporasi jangka panjang dari sekadar program tanggung jawab sosial sesaat.

77 PJUTS dan Rekor REC: Angka Konkret di Balik Sertifikat

Ilustrasi The Telkom Hub capai net zero emisi Cakupan 1 dan 2 - sumber dari telkom.co.id
Sumber: telkom.co.id.

Dari sisi infrastruktur, kawasan The Telkom Hub yang terletak di Jakarta Selatan kini mengoperasikan 77 unit Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS). Pemanfaatan energi surya ini diproyeksikan menghemat konsumsi listrik gedung Telkom Landmark Tower sebesar 20.235,6 kWh per tahun — penghematan yang tampak kecil di atas kertas, tetapi berarti ketika direplikasi ke kawasan lain.

Untuk emisi yang belum bisa dihilangkan di hulu, Telkom membeli 45.407 REC dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), bersama operating company PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC). Pembelian sertifikat energi terbarukan ini berpotensi menurunkan emisi hingga 42.425,7 ton CO₂e — sebuah angka yang menunjukkan bahwa atribut energi terbarukan kini diperlakukan sebagai komoditas strategis, bukan pelengkap laporan keberlanjutan.

Peta Jalan Transisi Iklim: 20%, 40%, 70%, 100%

Ilustrasi penerapan energi terbarukan di The Telkom Hub - sumber dari telkom.co.id
Sumber: telkom.co.id.

Semua langkah tersebut berkunci pada Rencana Transisi Iklim TelkomGroup yang diluncurkan pada 2025. Di dalamnya, TelkomGroup menetapkan jalur penurunan emisi Cakupan 1 dan 2 secara bertahap: 20% pada 2030, 40% pada 2040, 70% pada 2050, dan baru 100% atau net zero pada 2060. Untuk mewujudkannya, ditetapkan enam key decarbonization levers, mulai dari efisiensi energi, elektrifikasi, pemanfaatan energi terbarukan, sampai instrumen berbasis pasar.

Strategi ini disusun dengan mempertimbangkan profil emisi TelkomGroup yang didominasi penggunaan listrik serta kebutuhan menjaga keandalan layanan. Peta jalan bertahap semacam ini krusial bagi perusahaan telekomunikasi: memangkas emisi terlalu agresif tanpa memperhitungkan ketersediaan energi hijau bisa berisiko pada kualitas jaringan.

Kata Mereka: Efisiensi sebagai Prioritas Baru

VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menyebut pencapaian The Telkom Hub sebagai milestone yang membuktikan dekarbonisasi bisa diterapkan di level operasional. “Telkom terus mendukung upaya pencapaian net zero emission melalui implementasi Rencana Transisi Iklim yang dilakukan secara bertahap dan terukur,” ujarnya, seraya menambahkan komitmen untuk memperkuat langkah tersebut hingga level group.

Dari sisi pengelola kawasan, Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower, Suratman, menyebut sertifikat REC dan SPE GRK sebagai pemicu efisiensi berkelanjutan. Saat ini pihaknya juga tengah menerapkan modul teknologi Building Management System untuk mengoptimalkan penggunaan energi, setelah melakukan sejumlah asesmen energi pada aspek teknis maupun perangkat.

Sementara Direktur Utama EMI, Henri Firdaus, menekankan bahwa tujuan efisiensi energi bukan semata-mata mengurangi pemakaian, melainkan mengoptimalkan energi yang tersedia agar dipakai lebih efektif dan berkelanjutan. Ia berharap kemitraan ini bisa berkembang hingga pengelolaan emisi Cakupan 3, termasuk pengelolaan limbah sebagai bagian dari dekarbonisasi menyeluruh.

Kenapa Ini Penting bagi Pengguna Internet Indonesia

Di balik jargon korporat, transisi energi di sektor telekomunikasi menyentuh dua hal yang langsung dirasakan konsumen. Pertama, efisiensi energi berpotensi menekan biaya operasional jangka panjang — yang dalam industri padat modal seperti telekomunikasi biasanya ikut memengaruhi harga layanan dan investasi perluasan jaringan. Kedua, kami yang menikmati koneksi internet sehari-hari pada akhirnya ikut menanggung jejak karbon dari pusat data yang melayani kita.

Langkah Telkom ini juga menjadi sinyal untuk operator lain. Ketika pemain terbesar sudah mengukur emisi secara rinci dan membeli sertifikat energi terbarukan, standar industri ikut naik. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah dekarbonisasi akan dilakukan, melainkan seberapa cepat hal itu menyebar ke seluruh ekosistem digital Indonesia.

Baca Juga:

Dengan target NZE 2060 yang masih jauh, The Telkom Hub hanyalah satu batu bata dari bangunan besar. Namun sebagai kawasan pertama yang menutup emisi Cakupan 1 dan 2, ia menjadi gambaran tentang bagaimana infrastruktur digital Indonesia bisa tumbuh tanpa mengorbankan masa depan iklim.

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment