Langkah besar dalam agenda transformasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi bergulir. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar secara daring pada Rabu (30/9), pemegang saham independen Perseroan menyetujui aksi korporasi pemisahan aset dan bisnis (spin-off) wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).
Karena tergolong transaksi afiliasi, keputusan ini tunduk pada Peraturan OJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan. Telkom memastikan pelaksanaannya telah memenuhi kuorum mayoritas pemegang saham independen. Selain menyetujui spin-off, RUPSLB juga memutuskan perubahan susunan pengurus yang diharapkan memperkuat tata kelola sekaligus mendukung suksesnya agenda transformasi TLKM 30.
InfraNexia Jadi Operating Company Bisnis Infrastruktur TelkomGroup
Terbentuknya InfraNexia sebagai operating company yang menggawangi bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup menjadi bagian dari implementasi strategi TLKM 30. Strategi ini menyasar monetisasi aset bernilai tinggi dan kemitraan strategis untuk menangkap peluang pertumbuhan.
Langkah tersebut sekaligus menandai pergeseran peran Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding, dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo) yang berorientasi pada penciptaan nilai dan sinergi antar entitas secara berkelanjutan. Dengan kata lain, Telkom lebih fokus mengatur portofolio, sementara entitas di bawahnya bergerak lebih lincah di lini bisnis masing-masing.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan apresiasi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai kepercayaan atas Spin-Off InfraCo menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal. Menurutnya, transformasi yang tengah dijalankan harus memberi dampak nyata pada kinerja dan penciptaan nilai, serta kontribusi yang semakin besar bagi ekosistem digital Indonesia.
Susunan Direksi dan Komisaris Telkom Terbaru
Sebagai bagian dari hasil RUPSLB, susunan Dewan Komisaris dan jajaran Direksi Telkom mengalami perubahan. Nanang Hendarno tetap dipercaya memimpin sebagai Direktur Utama, didampingi sejumlah direktur pada fungsi-fungsi kunci.
Di jajaran Komisaris, Angga Raka Prabowo menempati posisi Komisaris Utama. Posisi Komisaris diisi Ossy Darmawan, Rizal Mallarangeng, dan Edwin Hidayat Abdullah. Sementara kursi Komisaris Independen dijabat Rofikoh Rokhim, Anthony Leong, Deswandhy Agusman, dan Ira Noviarti.
Jajaran Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026 terdiri dari Nanang Hendarno (Direktur Utama), Veranita Yosephine (Direktur Enterprise & Business Service), Willy Saelan (Direktur Human Capital Management), Arthur Angelo Syailendra (Direktur Keuangan & Manajemen Risiko), Budi Satria Dharma Purba (Direktur Network), Seno Soemadji (Direktur Strategic Business Development & Portfolio), Radita Ali Putra (Direktur Wholesale & International Service), Kharim I. G. Siregar (Direktur IT Digital), serta Andy Kelana (Direktur Legal & Compliance).
Perombakan pengurus ini dipandang sebagai upaya memperkuat tata kelola sekaligus memastikan eksekusi agenda transformasi berjalan sesuai arah strategis Perseroan.
Lebih dari 90% Aset Jaringan Dikonsolidasikan ke InfraNexia
Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia melaksanakan penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai tonggak utama penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.
Melalui tahapan ini, lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia. Skala tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 km Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
Nanang Hendarno menuturkan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis serta meningkatkan produktivitas aset infrastruktur, guna mendorong kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup. Ia berharap InfraNexia mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri.

Model Bisnis Carrier-Neutral dan Open-Access
InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yaitu Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolionya mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis masing-masing pelanggan.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyebut konsolidasi memberi ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperluas kolaborasi di ekosistem digital nasional. Ia menegaskan fokus perusahaan bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur menjadi fondasi bagi pertumbuhan mitra dan layanan digital, sekaligus memperkuat ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia.
Pasca konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung lewat infrastruktur darat dan laut, didukung 4 area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Cakupan ekstensif ini menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, serta berbagai pelaku industri dalam memperluas kapasitas dan jangkauan layanan. Arah serupa juga terlihat dari langkah InfraNexia bersama CCSI-KD membangun SKKL SUB-2 untuk memperkuat konektivitas antarwilayah.
Menuju AI Ready Infrastructure untuk Indonesia
Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, menegaskan fase baru ini memperkuat peran perusahaan dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama. Menurutnya, Indonesia membutuhkan infrastruktur yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi.
Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, InfraNexia ingin menghadirkan fondasi bagi pertumbuhan AI, cloud, data center, dan berbagai inovasi digital lainnya. Langkah ini disebutnya membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan tanpa harus membangun seluruh infrastrukturnya sendiri. Selaras dengan itu, rencana pengembangan data center berkapasitas besar bersama Danantara menjadi salah satu wujud kesiapan infrastruktur digital nasional menyambut era AI.

Mengapa Spin-Off InfraCo Penting
Spin-off InfraCo bukan sekadar restrukturisasi di atas kertas. Pemisahan bisnis infrastruktur ke entitas tersendiri membuat setiap lini usaha lebih fokus: Telkom sebagai induk strategis, sementara InfraNexia mengurus jaringan dan melayani pasar wholesale yang lebih luas. Dengan skala jaringan nasional, model bisnis terbuka, dan pengelolaan yang semakin terintegrasi, InfraNexia memperkuat perannya sebagai fondasi infrastruktur bagi pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.
Langkah ini juga bersinggungan dengan agenda transformasi lebih luas, termasuk upaya Telkom membangun payung transformasi AI, cloud, dan keamanan siber di seluruh TelkomGroup, serta strategi pertumbuhan berkelanjutan lewat bisnis infrastruktur digital. Bagi pelaku industri, kehadiran InfraNexia berpotensi membuka akses infrastruktur yang lebih mudah dan fleksibel untuk mendukung layanan mereka.
Dengan semangat “Flowing Through Nusantara”, Lukman menegaskan setiap pengembangan infrastruktur harus memberi ruang bagi konektivitas dan ekosistem digital untuk terus bertumbuh. Ujungnya, spin-off ini diharapkan menghadirkan nilai tambah, baik bagi TelkomGroup maupun bagi ekosistem digital Indonesia secara keseluruhan.
Baca Juga:









Leave a Comment