Telkom Gabung UN Global Compact, Program Zero Waste to Landfill

Ahmad

No comments
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menerima sertifikat keanggotaan UN Global Compact dari Dr. M. Windrawan Inantha - sumber dari telkom.co.id
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menerima sertifikat keanggotaan UN Global Compact dari Executive Director UN Global Compact Network Indonesia Dr. M. Windrawan Inantha, Kamis (22/10). Sumber: telkom.co.id.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menegaskan komitmen keberlanjutannya lewat jalur formal. Sertifikat keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC) diserahkan kepada Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno oleh Executive Director UN Global Compact Network Indonesia Dr. M. Windrawan Inantha pada Kamis (22/10). Penyerahan itu berbarengan dengan peluncuran program Zero Waste to Landfill bersama Waste4Change di kawasan The Telkom Hub, Jakarta.

Telkom sebenarnya bukan pendatang baru di inisiatif tersebut. Perusahaan tercatat sebagai peserta aktif UNGC sejak 16 Juli 2026, dan sertifikat yang diterima pada Kamis (22/10) menjadi penanda resmi bahwa Sepuluh Prinsip UNGC mulai ditanam ke dalam strategi, budaya kerja, serta kegiatan operasional harian TelkomGroup.

Bagi Nanang, keberlanjutan bukan perkara memenuhi standar atau menjalankan program lingkungan sesaat. Ia menempatkannya sebagai bagian dari transformasi perusahaan untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab sekaligus berdaya saing dalam jangka panjang.

“Di TelkomGroup, keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar atau menjalankan inisiatif lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya kerja,” ujar Nanang di Jakarta, Kamis (22/10).

Grafik dukungan PT Telkom Indonesia terhadap Sepuluh Prinsip UN Global Compact - sumber dari telkom.co.id
Grafik dukungan PT Telkom Indonesia terhadap Sepuluh Prinsip United Nations Global Compact. Sumber: telkom.co.id.

Program Zero Waste to Landfill menjadi salah satu ujian paling konkret dari komitmen itu. Telkom memilah sampah sejak dari sumber, dengan melibatkan karyawan, petugas housekeeping, dan Waste4Change dalam rantai pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan. Aturan mainnya tegas: sampah yang sudah dipilah tidak boleh dicampur kembali di tengah jalan.

Langkah ini bersandar pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 yang mendorong pemilahan dari sumber berdasarkan kategori organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu. Pembatasan sampah yang boleh dibuang ke TPST Bantargebang membuat pengelolaan dari hulu jadi keharusan, bukan pilihan. Kemitraan dengan Waste4Change sendiri berjalan sejak 7 Oktober 2026.

Datanya memperlihatkan mengapa pemilahan mendesak. Sepanjang Januari sampai Juni 2026, volume sampah di The Telkom Hub bergerak antara 14.604 kg hingga 30.334 kg per bulan, dengan puncak pada Februari. Komposisinya didominasi residu 51 persen dan sampah organik 32 persen, sementara plastik dan kertas masing-masing menyumbang 7 persen.

Angka itu menjelaskan satu hal sederhana: lebih dari separuh isi tempat sampah kantor sulit didaur ulang. Tanpa pemilahan di sumber, residu akan menyeret material yang sebenarnya masih bernilai, sehingga volume yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) tetap besar.

Chief Operating Officer Waste4Change Ridho Malik Ibrahim menilai kolaborasi ini sebagai titik balik pengelolaan sampah di lingkungan kerja. Menurutnya, langkah The Telkom Hub mengalihkan pengelolaan sampah agar tidak langsung berakhir di TPA adalah bagian penting dari pembangunan sistem yang lebih terintegrasi, sekaligus mendorong perubahan perilaku karyawan.

Dari sisi kerangka global, Windrawan menekankan bahwa keberlanjutan perlu menjadi bagian dari strategi dan budaya kerja seluruh elemen perusahaan. Lewat UNGC, perusahaan mendapat kerangka untuk mengintegrasikan prinsip hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi ke dalam praktik bisnis. Ia menyebut Zero Waste to Landfill sebagai contoh bagaimana prinsip lingkungan diterjemahkan menjadi langkah konkret.

Zero Waste to Landfill bukan inisiatif pertama Telkom di area itu. Sejak Desember 2024, The Telkom Hub menjalankan Reverse Vending Machine (RVM) yang telah dipakai lebih dari 900 pengguna dan mengumpulkan lebih dari 7 ton botol plastik untuk didaur ulang, sekaligus menghindari sekitar 38 ton emisi CO2e. Program baru ini memperluas cakupan dari botol plastik ke seluruh sampah perkantoran.

Di sisi emisi, TelkomGroup menjalankan strategi dekarbonisasi lewat Climate Transition Plan yang diluncurkan pada 2025 sebagai peta jalan menuju net zero emission 2060. Target jangka pendeknya adalah penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20 persen pada 2030. Pada 2026, The Telkom Hub juga telah mencapai net zero emission untuk emisi operasional Scope 1 dan Scope 2.

Perusahaan juga mendorong pemanfaatan energi terbarukan di berbagai lokasi operasional, pengembangan green data center, serta efisiensi energi jaringan lewat penerapan Autonomous Network. Kombinasi itu menjadi sisi teknis dari agenda yang sama: menekan dampak lingkungan dari aktivitas operasional yang terus tumbuh.

Yang patut dicermati, praktik di The Telkom Hub dirancang untuk direplikasi ke kantor-kantor TelkomGroup lain. Bila pola pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan bisa berjalan konsisten di semua lokasi, dampaknya akan jauh lebih besar daripada satu gedung. Sebaliknya, tanpa disiplin di level operasional, target nol sampah ke TPA hanya akan berhenti sebagai dokumen program.

Langkah ini juga menyambung dengan arah bisnis grup yang tengah menata portofolio lewat strategi TelkomGroup 2030 dan sejumlah inisiatif keberlanjutan berbasis ekosistem di luar kantor. Bagi Telkom, keberlanjutan kini berfungsi ganda: kewajiban tata kelola, sekaligus cara menjaga legitimasi sosial di tengah bisnis infrastruktur digital yang menuntut energi besar.

Baca Juga:

Jadikan AndroidPonsel situs favoritmu di Google

AndroidPonsel.com di Google
📢 Follow di WhatsApp

Ahmad

Ahmad adalah penulis teknologi sekaligus pengamat di bidang telekomunikasi dan digitalisasi yang telah aktif menulis sejak 2018. Di AndroidPonsel.com, ia dikenal sebagai kontributor utama untuk topik-topik seputar aplikasi digital, monetisasi online, serta perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment