Persoalan konektivitas di Indonesia jarang soal sinyal di kota besar. Yang mahal justru di daerah: membangun menara dan menarik fiber optik ke wilayah dengan jumlah pelanggan sedikit hampir selalu tidak masuk hitungan bisnis. Di titik itulah gagasan shared infrastructure jadi relevan.
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) membawa gagasan ini ke Sovereign Tech Summit 2026, bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali. Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel, Hastining Bagyo Astuti, menjadi panelis dalam sesi Panel Discussion I: Building Indonesia’s Sovereign Technology Ecosystem pada Kamis (22/10).
Inti pesannya sederhana: pembangunan infrastruktur saja tidak cukup kalau asetnya tidak dipakai bersama. Operator bisa memakai menara dan jaringan yang sama, sehingga biaya investasi tidak dobel dan jangkauan bisa diperluas lebih cepat.
Apa Itu Shared Infrastructure dan Kenapa Penting
Dalam model konvensional, setiap operator membangun menara sendiri. Hasilnya, satu titik bisa berdiri dua atau tiga menara dengan fungsi sama, sementara daerah lain tidak terlayani sama sekali karena dianggap tidak menguntungkan.
Dengan skema berbagi, satu menara dipakai beberapa operator sekaligus. Beban investasi terbagi, waktu pembangunan lebih singkat, dan perluasan jaringan ke wilayah yang secara komersial lemah jadi lebih mungkin dilakukan.
“Pemerataan konektivitas digital membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada bagaimana infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujar Hastining dalam paparannya.
Menurutnya, pendekatan ini mendorong ekosistem konektivitas yang lebih efisien dan inklusif, sehingga manfaat transformasi digital bisa dirasakan lebih merata, bukan hanya menumpuk di pusat-pusat ekonomi.
Modal Mitratel: 40.563 Menara dan 59.239 Km Fiber Optik
Klaim itu bukan tanpa dasar. Hingga Semester I 2026, Mitratel mencatat jejak infrastruktur yang cukup luas:
| Menara telekomunikasi | 40.563 unit |
| Jaringan fiber optik | 59.239 kilometer |
| Posisi | Operating company Telkom untuk infrastruktur menara |
| Periode data | Semester I 2026 |

Angka itu penting bukan karena besarnya, tapi karena artinya: jaringan menara dan fiber yang sudah terpasang bisa langsung dipakai bersama, tanpa perlu membangun dari nol setiap kali ada operator yang ingin memperluas cakupan.
Dari Perusahaan Menara Menjadi Ekosistem Infrastruktur
Mitratel memosisikan diri sebagai Next-Generation Tower Company. Artinya, bisnisnya tidak lagi berhenti di menyewakan ruang di menara. Mereka mengembangkan layanan pendamping yang dibutuhkan operator saat memperluas jaringan.
Salah satunya fiber connectivity, yang menghubungkan menara ke backbone jaringan. Ada juga Power as a Service, penyediaan daya listrik untuk perangkat telekomunikasi di lokasi yang pasokan listriknya tidak stabil — masalah klasik di daerah terpencil.
Langkah ini masuk akal secara bisnis. Operator tidak perlu mengurus sendiri urusan listrik, backhaul, dan lahan di setiap titik. Semakin banyak kebutuhan yang ditangani penyedia infrastruktur, semakin cepat operator bisa menambah kapasitas jaringan.

Soal Kepastian Investasi
Dari sisi industri, Alif Bajara, perwakilan Asosiasi Pengembang Infrastruktur dan Menara Telekomunikasi (Aspimtel), menyoroti satu hal yang sering jadi penghambat: kepastian investasi.
“Pemerataan konektivitas nasional tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan pembangunan jaringan di wilayah yang secara ekonomi sudah matang. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia menyebut pemanfaatan shared infrastructure perlu didukung kebijakan yang kondusif, terutama untuk daerah yang secara komersial masih menantang. Tanpa itu, pembangunan jaringan cenderung mengikuti peta kepadatan penduduk, dan wilayah timur Indonesia kembali tertinggal.
Bagi pengguna, dampak akhirnya terasa langsung: sinyal yang lebih merata saat mudik atau bepergian ke daerah, kapasitas jaringan yang lebih longgar di titik padat, dan harga layanan yang lebih rasional karena biaya infrastruktur per operator turun. Sebagai gambaran skala ambisi TelkomGroup, arah bisnis mereka hingga 2030 sudah dipetakan dalam Portfolio Forum TelkomGroup.
Bali Tech Week 2026 sendiri berlangsung 19–23 Oktober 2026 dengan tema “Archipelago Ascending: Advance Together, Innovate Further”. Sebelumnya, Mitratel juga terlibat dalam agenda keberlanjutan lewat penanaman 2.000 fragmen karang di Kepulauan Seribu bersama TelkomGroup.
Yang menarik, pendekatan ini menjadikan infrastruktur telekomunikasi sebagai isu kebijakan, bukan sekadar urusan teknis. Bagi pembaca yang ingin memahami dasarnya, penjelasan mengenai infrastruktur digital bisa jadi titik awal yang berguna.
Baca Juga:









Leave a Comment